BERMULA DI GEURUTEE

musismail.com / 19/01/2013

 Bermula di geurutee

 

 

Oleh: Mustafa Ismail |

Tulisan ini pengantar editor kumpulan cerpen “Bayang Bulan di Pucuk Manggrove” yang diterbitkan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) pada 2006 | Saya posting di sini karena ada hal-hal yang, menurut saya, bisa mengingatkan — terutama saya sendiri — bagaimana melahirkan cerpen yang baik

Kisah bermula pada siang. Matahari tak lagi di atas kepala, tapi sudah condong ke barat. Mobil meluncur cepat dari Lamno, Aceh Barat Daya, ke arah Banda Aceh – dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Saya memburu waktu siang itu untuk sampai di bandara Sultan Iskandar Muda pukul 17.00. Saya harus kembali ke Jakarta, setelah mengikuti sebuah kerja sastra di Lamno, sastrawan masuk sekolah, yang diadakan oleh Lapena.
Saya sudah beberapa hari di Aceh, kala itu. Sebelum di Lamno, saya telah mengikuti kegiatan serupa di daerah Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Dan dalam perjalanan pulang itu, saya ngobrol banyak hal dengan Zoelfikar Sawang, pembaca puisi handal, yang memegang kemudi. Rupanya ia tidak hanya trampil membaca puisi, juga lihai meliuk-liukkan mobil di jalan berkelak-kelok di pegunungan Geurutee.
Salah satu yang kami bicarakan adalah soal kegiatan Dewan Kesenian Banda Aceh yang dipimpin Zoel, begitu ia biasa kami panggil. Dari pembicaraan itu, saya mengusulkan bagaimana kalau DKB menerbitkan buku kumpulan cerpen. Pertimbangan saya sederhana, penulis cerpen dari Aceh belum banyak dikenal di luar Aceh. Saya berharap buku itu bisa menjadi “salam silaturahmi” cerpenis Aceh kepada dunia luar.
Rupanya Zoel, yang juga wakil rakyat di DPRD Kota Banda Aceh itu, antusias. “Oke,” katanya. “Ci kumpulkan laju,” ia meminta saya untuk mengumpulkan cerpen-cerpen itu. “Menyoe jeut ta luncurkan buleuen Desember,” ia melanjutkan. Maksudnya, jika bisa buku itu diluncurkan pada Desember 2006. “Jeut,” kata saya. Bisa, tak masalah.
Pembicaran soal antologi cerpen itu berlangsung hingga kami sampai di bandara. Di salah satu meja di cafetaria bandara, sambil melegakan tenggorokan dengan minuman ringan, kami mulai mencoret-coret siapa saja yang bakal ikut dalam kumpulan ini.
Ia menganjurkan agar soal ini dibicarakan juga dengan Saiful Bahri, yang baru menerbitkan novel keduanya, Hikayat Sang Gila. Saya mengontak Saiful, yang sekretaris DKB itu, dan rupanya antusias pula. Klop. Berarti rencana itu sudah setengah jadi. Di ujung pertemuan dengan Zoel sore itu, ia berkata kira-kira begini: “Semoga peue yang tanyoe reuncanakan terwujud.” Semoga apa yang kita rencanakan terwujud.
Kami berjabat tangan. Ia kembali ke mobil. Saya mengantarnya sampai di bibir teras bandara. Lalu, saya kembali masuk ke ruang tunggu menunggu pesawat yang akan membawa saya kembali ke Jakarta, yang rupanya terlambat lebih satu jam. Matahari sudah rebah di barat. Warna merah menyapu sekelilingnya. Sebentar lagi senja akan tiba.
* * *
Sebetulnya, tak hanya buku kumpulan cerpen yang kami rencanakan, juga antologi puisi. Rencana itu bertolak dari sebuah acara yang diadakan dewan kesenian kota itu: Lomba Baca Puisi Piala Maja. Biasanya, puisi-puisi yang akan dipilih dan dibacakan peserta lomba dibikin dalam sebuah buklet sederhana. “Nah, sekarang puisi-puisi itu kita bikin dalam bentuk buku yang bagus,” kata saya.
Zoel juga sepakat. “Jeut nyan,” kata dia.
Argumen saya juga sederhana. Selain untuk kepentingan lomba, buku antologi itu bisa dilempar ke pasar, dijual. Jadi, masa hidup puisi-puisi itu lebih panjang, tidak hanya seumur acara itu. Ia bisa menjadi buku yang menemuni rak-rak toko buku, perpustakaan, maupun menjadi koleksi para penyair dan penikmat puisi. Puisi-puisi yang masuk dalam buku itu sedapat mungkin adalah puisi-puisi terbaru para penyair.
Tapi rupanya memang tidak mudah mengejar dua hal dalam waktu yang sangat singkat itu. Akhirnya, yang jalan duluan adalah kumpulan cerpen. Tiba di Jakarta, saya mulai mencoret-coret anggaran dan nama-nama penulis cerpen yang bakal ikut dalam antologi itu. Lalu, nama-nama itu saya kontak, ada yang lewat telepon, maupun lewat yahoo messenger.
Tak lama, sejumlah cerpen terkumpulkan. Para cerpenis mengirim dua sampai tiga cerpen perorang. Di luar yang dikirim, ada pula yang saya ambil dari cerpen yang pernah dipublikasikan di koran. Setelah semuanya terkumpul, saya pun mulai bekerja: menyeleksi cerpen-cerpen yang bisa masuk ke buku itu. Awalnya, saya memasang kriteria yang ketat dalam menyaring.
Tema boleh bebas, tapi cerpen-cerpen yang masuk buku itu mestilah cerpen yang kuat, ya kuat dalam ide cerita, orisinil, konflik-konflik, suspense, penokohan, kebaruan, sampai ending cerita. Tapi rupanya memang sulit mendapatkan cerpen-cerpen dengan kriteria yang saya pakai. Jika saya paksakan kriteria itu, saya hanya mendapat beberapa cerpen saja.
Ada banyak soal yang melingkupi cerpen-cerpen yang masuk. Misalnya, ada cerpen dengan ide yang cukup orisinil, atau dengan kata lain idenya cukup baru, tapi lemah dalam logika. Hubungan sebab-akibat tidak kuat. Sehingga peristiwa itu muncul sekonyong-konyong, tiba-tiba, kebetulan, dan tidak dapat dijelaskan mengapa peristiwa itu muncul. Padahal, cerita tidak terpisah dari logika. Kausalitasnya mestilah jelas.
Seorang penulis cerpen kawakan, Mohammad Diponegoro, dalam buku Yuk Nulis Cerpen Yuk mengatakan dalam cerita fiksi tidak ada hal yang terjadi kebetulan. Kalau toh ada, hal kebetulan itu akibat dari peristiwa sebelumnya. “Jadi bukan hal yang berdiri sendiri tanpa sebab atau mendadak turun dari langit yang kosong,” katanya. Dengan kata lain, kebetulan harus ada alasan, dan alasan itu perlu diketahui pembaca.
Alhasil, cerpen dengan ide cukup menarik itu terpaksa saya sisihkan dari kerumunan. Ada pula cerpen dengan fakta-fakta yang keliru. Misalnya, dalam sebuah cerpen yang bercerita tentang pengungsi, penulis menggambarkan bahwa salah seorang pengungsi terkena penyakit tipus. “Kamu pasitif tipes!” kata orang yang memerika layaknya dokter di pengungian itu. Uniknya, yang diperiksa untuk memastikan tipus itu hanya menyenter kornea dan mulut.
Penulis cerpen ini lupa, untuk memastikan sebuah penyakit, misalnya tipus, tidak sesederhana itu. Mesti ada sejumlah pemeriksaan, antara lain pemeriksaan darah. Selain itu, dalam cerpen yang sama, digambarkan yang menolong orang sakit adalah sarjana peternakan. Lebih tepatnya: “Saya ini sarjana peternakan yang baru saja mau lulus.” Rupanya sarjana peternakan itu belum lulus pula. Jagi, sebetulnya ia masih calon sarjana.
Itu juga ketidak-akuratan, akibat ketidaktelitian pengarang. Terus, pembaca dipaksa untuk menerima fakta yang aneh ini: calon sarjana peternakan mengobati orang sakit. Ini jelas fakta yang sulit diterima akal sehat. Jika ia seorang perawat, masih mungkin ia memberi pertolongan pertama untuk orang yang sakit. Anehnya lagi, obat yang digunakan untuk mengobati orang sakit sama dengan obat buat hewan. Dosisnya ditakar-takar saja.
Saya terpaksa menyisihkan cerpen ini sejak awal. Apa boleh buat. Apalagi, alur cerita itu datar-datar saja, tidak punya hentakan, atau sesuatu yang menarik perhatian
Mesti diingat, fakta dalam cerpen tidak bisa dijungkirbalikkan dari fakta yang terjadi dalam kenyataan sehari-hari. Kalau dalam kenyataan sehari-hari yang mengobati orang sakit adalah dokter, atau paling kurang mantri, tidak bisa kita semena-mena menggambarkan dalam cerpen seorang sarjana peternakan bisa menyembuhkan orang sakit. Jika dalam kenyataan sehari-hari lampu merah untuk berhenti, tidak bisa kita menggambarkan dalam cerpen bahwa lampu merah untuk berjalan.
Inilah pentingnya riset. Mestinya, sebelum menulis, jika ada hal-hal teknis yang diluar pengetahuan dan pengalaman penulis, sang penulis itu bisa melakukan riset terhadap masalah itu, apakah lewat buku-buku maupun bertanya kepada yang mengerti. Remy Silado, dalam sebuah kesempatan mengatakan untuk keperluan penulisan novelnya, ia sampai melakukan riset ke perpustakaan-perpustakaan di luar negeri.
Intinya, penulis tak boleh menghayal terlalu jauh. Kecuali memang ia sedang menggarap sebuah cerpen absurd, surealis, bukan cerpen realis. Ia boleh saja bermain dengan logika, tokoh dan fakta-fakta. Tapi itu pun harus tetap mampu menyakinkan pembaca bahwa cerita itu layak diterima sebagai cerita, bukan hayalan yang membosankan.
Mohammad Diponegoro mengatakan sebenarnya tugas seorang penulis fiksi adalah membuat cerita khayalan menjadi tampak sungguhan. Dari kata-kata Diponegoro itu bisa disimpulkan: menulis fiksi, terutama fiksi realis, semua harus berjalan sesuai dengan logika umum manusia dan tampak seperti benar-benar terjadi, bukan dibuat-buat atau dikarang-karang. Di sinilah perlunya keterampilan pengarang.
Jadi ada dua hal penting di sini: logika dan visual. Kedua hal inilah yang mampu menggambarkan sebuah cerita tampak seperti benar-benar terjadi. Sejumlah cerpen yang masuk, selain ada yang lemah secara logika, juga ada yang lemah secara visual. Penulis tidak telaten dalam bercerita, tidak detil dalam penggambaran, sehingga visualisasi cerita menjadi kabur.
Sebuah cerpen yang berhasil, mestinya ia mampu menghadirkan layar film dalam kepala pembaca ketika membacanya. Cerita tidak sekedar susunan kata-kata yang dederetkan secara serampangan dan tanpa perhitungan. Kata-kata dalam cerita harus mampu memberi gambaran yang riil kepada pembaca tentang sebuah peristiwa yang ditampilkan dalam cerita.
Gampangnya seperti menonton film. Kalau dalam film itu ada adegan dua orang berkelahi, kata-kata dalam cerita harus mampu menggambarkan adegan tersebut seperti menonton film itu, termasuk gambaran detil sosok yang berkelahi, gerak, ekspresi, lokasi, hingga properti. Jika gagal, maka gagallah cerpen itu dari sudut visualisasi.
Maka itu, mohon maaf, jika ada cerpen yang akhirnya masuk dalam kumpulan ini terpaksa sedikit saya “tukangi” untuk membuat visualisasi cerita menjadi lebih baik. Semula cerpen itu mau saya singkirkan, tapi mengingat ia penulis muda yang berbakat, akhirnya saya berdamai dengan diri saya sendiri untuk memasukkan dalam kumpulan ini.
Memang, dalam menyusun kumpulan ini saya melakukan banyak kompromi, dengan berbagai pertimbangan tentu. Pertama, banyak cerpen lemah secara ide, artinya idenya bukan sesuatu yang baru dan tidak ada pula hal-hal baru dalam cerita itu. Kedua, ada cerpen yang kurang fokus dalam bercerita, tapi demi representasi saya akhirnya terpaksa memilihnya.
Ketiga, ada cerpen yang identitas tokohnya tidak jelas. Keempat, sejumlah cerpen yang masuk penggambarannya datar-datar saja, tidak greget, apalagi menyentuh. Kelima, persoalan waktu. Sebetulnya, saya mesti meminta cerpen lain kepada para penulis atau memintanya memperbaiki jika karya yang dikirimkan kurang memenuhi kriteria. Tapi karena waktu sangat mepet, saya terpaksa menerima karya-karya itu apa adanya. Apa boleh buat. Harapannya klise saja: lain kali akan lebih bagus.
* * *
Soal cerita, saya tidak akan menjelaskan di sini. Saya mempersilakan pembaca untuk menikmatinya. Saya hanya ingin mencatat ini: ada keragaman gaya penceritaan dalam ranah penulisan cerpen di Aceh. Ada gaya Saiful Bahri yang surealis, Nani HS yang filosofis, M.N. Age yang romantis, Azhari yang bernada liris, dan lain-lain. Ini tentu aset besar untuk dunia penulisan sastra dari Aceh.
Sayangnya, hanya beberapa nama yang kerap mempublikasikannya karyanya ke luar Aceh, antara lain Azhari, M.N Age, dan Ayi Jufridar. Nama terakhir lebih banyak menulis cerpen-cerpen remaja untuk majalah remaja di Jakarta. Dua nama lain, yakni Saiful Bahri dan Arafat Nur, bukunya diterbitkan di Jawa. Sementara banyak para penulis lain kurang gencar memperkenalkan karyanya ke publik luar.
Kondisi ini membuat peta penulisan sastra di Aceh tidak begitu muncul di luar Aceh. Akhirnya orang pun mendapatkan kesimpulan yang keliru: di Aceh tidak banyak sastrawan. Padahal, sastrawan sangat banyak di Aceh. Jadi, ini ajakan saja, jika ingin mengoreksi kesimpulan keliru di atas, mari ramai-ramai kita hidangkan karya-karya kita ke publik luar Aceh.
Karya-karya dalam buku ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu bukti untuk mengoreksi kesimpulan keliru itu.

Depok, 18 Nopember 2006

Pos ini dipublikasikan di BUKU. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s