KETIKA CERPENIS ACEH BERKISAH TANAHNYA

 – Sihar Ramses Simatupang

DI luar pandangan bahwa sastra mengusung estetika bahasanya secara unik dan khas, pengarang tak bisa melepaskan diri dari interaksinya dengan sejarah masyarakat. Airmata dari air Tsunami, airmata dari sejarah kemanusiaan di Aceh pun masuk ke dalam cerita.

Beginilah latar kisah dalam buku kumpulan cerpen Bayang Bulan di Pucuk Mangrove itu (terbitan Dewan Kesenian Banda Aceh –DKB, November 2006) ditulis oleh editornya, Mustafa Ismail: ”Sebelum di Lamno, saya telah mengikuti kegiatan serupa di daerah Aceh Timur dan Aceh Tamiang… Salah satu yang kami bicarakan adalah soal kegiatan Dewan Kesenian Banda Aceh yang dipimpin Zoel (Zoelfikar Sawang)… Dari pembicaran itu saya mengusulkan bagaimana kalau DKB menerbitkan buku kumpulan cerpen…”

Sastrawan Hamsad Rangkuti mengungkapkan dalam pengantarnya, tentang pengembangan karakter di dalam tokoh yang memperhatikan hubungan antar kejadian.

Hamsad juga mengomentari tentang keanehan penantian regu tembak terhadap “Kepala ke Delapan” yang menyembul di balik rawa, tujuh tahun penantian. “tapi itulah cerita” ujar Hamsad saat berkomentar terhadap cerpen karya Ayi Jufridar. Tentang cerpen “Jadi Ibu”, karya Arafat Nur berkisah tentang ibu Marlina, guru SD, yang tiba-tiba disapa “mama” oleh dua orang yatim piatu korban Tsunami. Metafora, analogi Azhari dalam “Kunang-kunang Kampung Sembilan”. “Dia biarkan pembaca mencari makna yang disampaikannya… Mungkin aku salah, selalu menuntut apa yang dipilih pengarang untuk menyampaikan maksud selalu aku kaitkan dengan simbol tertentu,” tulis Hamsad.

Rawa hingga Kupu-kupu

Aceh di dalam kisah ini, bagaimana pun menarik. Bukan hanya peristiwa beberapa tahun lalu seperti Tsunami, tapi juga kisah yang bertahun-tahun coba ditangkap dengan kontempolasi yang berbeda dari penulisnya. Cara MN Age, pada cerpen berjudul “Seulanga di Sudut Halaman” yang melihat peristiwa dari “sudut pandang” Syafira yang empat tahun ditinggalkan suaminya setelah didatangi lelaki berwajah sangar dan terus mengenang dengan wangi Seulanga. Cara Mustafa Ismail yang mengisahkan tentang semua rencana untuk sang ibu – dari sudut pandang tokoh Suman – dalam cerpen “Rumah Untuk Ibu”, yang ternyata habis sudah semuanya pada Tsunami, 26 Desember 2004 itu.

Deskripsi atas kesemua cerpen itu, sebenarnya menarik karena penyajiannya dilakukan dengan cara yang variatif.

Sebutlah kisah Ashari yang berbeda dengan Ayi Jufridar. Ayi sekali pun teknik bahasa yang realis, ada surealisme yang dibangun seperti tujuh tahun penantian kelompok militer untuk seorang yang terbenam di dalam lumpur dan siap ditembak kepalanya.

Berbeda dengan bahasa yang dibangun oleh Ashari sejak awal: “Kau tahu kunang-kunang itu akan datang malam ini dan menusukkan tubuhnya di pucuk daun pohon ara”. Atau Mustafa Ismail, penyair dan wartawan yang justru mengejawantahkan kejadian di Aceh di dalam cerpen dalam bahasa dan kisah yang realis. Karya-karya yang membebaskan para penulisnya berkreasi sesuai dengan penulisan orisinal cerpen-cerpen mereka sebelumnya – seperti karya Musmarwan Abdullah, Nani HS, Ridwan Amran, Saiful Bahri dan Sulaiman Tripa – memberikan horison dan wilayah imaji lain para pembacanya terhadap Bumi Serambi Mekah.Sebab sastra adalah tawaran lain yang mampu menjawab sebuah fakta.

[Sinar Harapan, Sabtu, 23 Desember  2006]

 

Pos ini dipublikasikan di KLIPING MEDIA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s