SEKILAS KISAH KRAFTANGAN MALAYSIA

Serambi Indonesia / Fri, Apr 1st 2011, 10:20

Dari Kunjungan PTPA ke Malaysia (2)

Utama

Ketua Persatuan Tokoh  Perempuan Aceh, Rd Sugiarti Teuku Said Mustafa, mengamati hasil kerajinan rakyat Malaysia, di Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia (semacam Kantor Dekranas),  di Conlay Street, Malaysia, Senin (28/3) pagi. SERAMBI/NANI HS

RUTINITAS bantuan pemerintah, baik dalam hal peningkatan kemampuan, maupun kucuran dana dari pihak-pihak terkait adalah faktor utama tumbuh pesatnya pembangunan bidang kerajinan rakyat di Malaysia.  Tak heran bila Ketua Persatuan Tokoh Perempuan Aceh (PTPA), Rd Sugiarti Teuku Said Mustafa, memberi apresiasi tinggi terhadap Lembaga Kraftangan Malaysia, ketika berbicara di Kantor Perbadanan Kemajuan Kraftangan, di Jalan Conlay, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (28/3).

Sejujurnya, hanya dua poin itulah yang mengganjal tumbuh kembangnya kerajinan rakyat di Aceh. “Perajin kita sebenarnya tidak kalah kreatif dalam berkarya. Banyak properti atau souvenir hasil kerajinan perajin kita yang bagus-bagus dan unik. Hanya saja, kita terkendala dana operasional dan tidak lancarnya proses pemasaran hasil. Barangkali yang perlu kita perbaiki adalah kemasan produk, termasuk harus lebih agresif mengikat kerja sama, terlebih dengan luar daerah, bahkan pihak luar negeri,” ungkap Sugiarti.

Memang benar. Keterlibatan pihak Kerajaan Malaysia untuk memajukan industri kecil dan menengah di Malaysia, bukan proyek cilet-cilet. Faktanya, badan yang pada tahun 1958 bernama RIDA itu, diperkuat dengan undang-undang pula.

Dalam Undang-Undang Malaysia Akta 222 (1979), ada Akta Peradaban Kemajuan Kraftangan Malaysia (memajukan, menggiatkan, dan memelihara kraftangan. Memelihara standar perusahaan kraftangan sekaligus mengurus pemasarannya, meninggikan mutu, dan mengurus pengeksporannya).

Lalu, lebih mantap lagi, pada tahun 1983 terdapat Akta A562 atau Akta Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia (Pindaan). Pada perkara 15 (3), butir b ayat (1), dalam bahasa Indonesia berarti, memberi modal atau pinjaman kepada perusahaan/industri kerajianan yang berhak. Semua ini setidaknya pada tahun 2009, kraftangan Malaysia diawasi oleh Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaya. Dengan misi dan visiny adalah membangun dan mempromosikan industri serta pengusaha kraf. Menjadi pemimpin dalam pertumbuhan, pembangunan, dan promosi industri kraf yang kukuh dan berdaya saing.

Tentu di Aceh semua ini juga ada aturan dan tata laksananya kok. Tapi sudahkah itu berfungsi sebagaimana mestinya? Dalam contoh kecil, sebut saja, soal akses pinjaman kredit bagi perempuan. Apakah sudah mulus jalannya? Tidak ada lagi diskriminasi antara nasabah laki-laki dan perempuan, antara pengusaha kecil dan besar?  Lagi-lagi Aceh harus bercermin. Tatkala pihak Kraftangan Malaysia memutar film dokumenternya yang disaksikan 35 anggota rombongan PTPA, kita pun berpikir, kalaulah saja Pemerintah Aceh lebih perhatian terhadap perajin industri rumah tangga, tentu derajat ekonomi rakyat akan cepat terdongkrak.

Dari gambar-gambar dan narasi film berdurasi 30 menit itu, kita pun berpikir lagi, “Memanglah ya, kalau semua perajin terpedulikan dengan baik dan diberi sentuhan akhir sebagaimana mestinya (termasuk kemasan), tentulah yang sederhana pun menjadi fantastik. Kalau tidak, kreativitas perajin kita yang tak kalah itu, menjadi bagai sayur bening tanpa garam. Banyak manfaat, tapi tak memiliki taste.”

Apa sih kiat kraftangan dalam memajukan industri kerajinan di Malaysia? Tidak sulit kok. Jawabnya: pengembangan pemasaran, pembangunan produk berorientasi pasar, peningkatan teknologi, standardisasi, dan pengawalan mutu produk. Pembangunan usahawan yang berpotensi serta pemilihan bahan mentah yang berkualitas, termasuk di antara jawabannya. Di samping pelestarian karya warisan dan membina tenaga siap latih secara berkesinambungan.

Nah, bukankah ini sama saja seperti yang kita lakukan di Aceh? Kalau begitu, apa kira-kira yang “lupa” kita lakukan? Pertama adalah rutinitas pembinaan. Campur tangan pemerintah pascaproduksi. Sebut saja pemasaran dan promosi domestik, hampir tidak ada bukan? Belum lagi niat kita menetapkan hari kerajianan daerah, misalnya. Menggelar promosi bertema secara berkala (bukankah selama ini sedikit sekali usaha pemerintah mempromosikan hasil kerajinan rakyatnya?) Paling-paling ya cetak brosur. Malah seringkali pengusaha memasang iklan sendiri untuk menjual produknya. Lalu sudah seringkah kita menggalakkan promosi antarbangsa, pelatihan-pelatihan produk ekspor, apalagi mengirim perajin ke luar negeri, membangun proyek satu daerah satu industri?

Yang lebih “mengharukan”, di Malaysia semua pekerja seni di bidangnya yang andal, pada akhirnya mendapat kesenangan di kemudian hari. Lagi-lagi perhatian dan penghargaan pemerintah/Kerajaan Malaysia ini menjadi motivasi dalam berkarya. Siapa pun yang berprestasi terhadap negara dan memberi kemaslahatan bagi rakyat, misalnya, membuka lapangan kerja, maka ia tetap mendapat manfaat/penghargaan/jaminan dari kerajaan.

Dalam aktivitas Badan Kraftangan Malaysia periode 2008, ada dua poin yang bisa kita adopsi. Yaitu, pengangkatan Tokoh Adiguru Kraf dan Tokoh Kraf Negara. Mereka ditokohkan karena mampu mewariskan kemahirannya bagi peserta didik generasi muda dan masih berkarya banyak bagi kemajuan industri, termasuk membuka lapangan kerja. Golongan adiguru kraf diberi kemudahan perawatan kesehatan gratis di kelas I hingga akhir hayat dan diberi kesempatan belajar ke luar negeri. Mereka yang mendapat penghargaan sebagai Tokoh Kraf Negara (the best-nya adi guru kraf), selain mendapat fasilitas kesehatan kelas I, yang masih aktif berkarya tetap dibantu industrinya, plus mendapat pesangon 60 ribu ringgit (kira-kira Rp 183 juta).

Yang jelas, sebagai donatur dan pemelihara Kraftangan Malaysia, pihak kerajaan tidak mengambil untung dari usahawan kerajinan rakyat. “Bila sudah tahu kemampuan usahawan, kerajaan akan mempromosikannya hingga ke luar negeri. Kalau usahawan tersebut lemah usaha dan kemampuannya, tidak akan gencar pula promosinya. Satu hal lagi, pemerintah tidak mengambil cukai usaha,” ungkap Pengarah Bahagian Komunikasi Korporat Kraftangan Malaysia, Encik Misroni bin Haji Sulaiman.

Mau tahu apa yang membuat forum pertemuan PTPA sedikit patah semangat, walau sempat tersenyum juga? Ini dia dialognya. “Encik, perajin anyaman kami di Kabupaten Pidie Jaya memproduksi tikar. Adakah peluang bagi kami ikut mempromosikannya di Malaysia?” tanya istri Drs M Gade Salam, Bupati Pidie Jaya yang turut menyerahkan cendera mata berupa tikar duduk yang apik dan rapi.

“Oh, sayang sekali, Puan. Kami tak lagi menggunekan tikarlah. Produk anyaman kami telah direkayasa untuk produk laen. Macam tas tangan dan laen-laenlah,” jawab Sang Encek.  Ya tentu sajelah macam tu, Encek. Kendati peradaban Encek telah mendepak produk tikar ke luar pagar, namun peradaban kami di Aceh masih memerlukan tikar. Sebab, tikar merupakan bagian dari budaya kami yang terus dilestarikan. 

(nani hs)

Akses  m.serambinews.com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

Pos ini dipublikasikan di BERITA NANI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s