KETIKA MASLAILA MERANGKUL ORANG PKK

Tabloid Seumangat / Ed, 47 / 15 April 2009

“Apapun yang dikerjakan bersama-sama, kuncinya, kita bersatu dulu. Harus kita kuatkan dulu kebersamaan, dan silaturrahminya. Ini penting untuk sebuah kerja sama,” ungkap Ketua TP PKK Aceh Besar, Dra Hj Maslaila Bukhari Daud kepada Seumangat.

Agaknya perempuan yang pada 2008 pernah tampil di Dewan Kehormatan PBB mewakili Indonesia untuk membacakan statement HAM ini, memang mendahulukan pembangunan batin di jajarannya. Apakah kerena dia berlatar belakang sarjana Bimbingan Pendidikan Unsyiah, atau pernah kursus psikologi di Australia ya? Benar atau tidak, nyatanya faktor itulah yang sengaja atau tidak, telah mewarnai tugas-tugasnya menggawangi PKK Aceh Besar.

Suatu kali, istri Bupati Aceh Besar ini berkunjung kerja ke desa terpencil di Pulau Aceh bersama stafnya. Maslaila melontarkan ide kepada rombongan, bahwa sebaiknya mereka mengenakan blus dan kain sarung saja, layaknya rakyat biasa. Pakai daster dan kain sarung plus kerudung jadilah. “Saya ingin kehadiran kami bukan sebagai tamu agung. Jangan ada jurang pemisah. Saya ingin kami tak beda dengan mereka. Kami adalah mereka juga,” jelas Maslaila lagi.

Menurutnya, sikap ini sangat efektif dalam mengikat kekompakan dan silaturrahmi. Kalau batin sudah menyatu, kerja sama akan bagus hasilnya, begitu pendapatnya.

Mengubah pola kegiatan, juga telah mempercepat keberhasilan Laila (panggilannya) dalam menggairahkan kembali PKK Aceh Besar, yang telah lama monoton kegiatan dan pergerakanya. Sebut saja menyangkut arisan dua kali sebulan yang selalu dilakukan di gedung PKK, sekarang lokasinya dipindah-pindah. Sekali bergiliran di seluruh dinas, sekali bergiliran di desa kecamatan dengan cara mengundi dan mengutamakan desa terpencil. Keuali mengganti suasana, ini dimaksudkan pula untuk mempertebal ukhuah, saling mengenal, saling sharing pengalaman, dan untuk mengorbitkan desa terpencil tersebut.

Sebab menurut Laila, TP PKK bukan saja untuk membuat kue, bunga. Tapi bagaimana meningkatkan capasity building. Bagaimana ibu-ibu PKK bisa terlibat dalam pembangunan dan bisa memberi kebijakan, serta mengambil keputusan.

“Saya lebih konsentrasi pada desa terpencil, sebab masih ada perempuan yang tak mengerti apa itu PKK. Kita harus mendatangi mereka untuk memberi support. Sekali lagi, PKK bukan milik kaum ibu saja, tapi untuk kepentingan bersama. Sukurlah sekarang sudah ada bapak-bapak yang tak segan datang ke posyandu misalnya. Ini bukan pelecehan, tapi hasil dari pemahaman tentang PKK. Bahwa PKK bukan milik perempuan saja. Bukan bermanfaat bagi perempuan saja.

Dalam menciptakan kebersamaan, Laila selalu menganjurkan mengenakan seragam PKK dalam setiap rutinitas jajarannya, bahkan untuk sekadar pertemuan arisan, kunjungan sosial, atau kemanapun rombongan ini berkegiatan. “Selain kostum PKK, saya juga menganjurkan mengenakan tas berlabel Abes (produksi Dekranas Aceh Besar). Satu sisi bertujuan membina kebersamaan, sisi lain melariskan produksi Dekranas kami,” kata Laila. Sikap merakyat seperti itu diharapkan Laila bisa berlanjut, kendati dia sudah tak Ketua TP PKK Aceh Besar lagi.

Selain langkah awal mengokohkan hubungan lintas instansi, kecamatan, hingga level PKK desa, Laila memberi ruang bagi jajarannya memenej program, sehingga masing-masing pokja berfungsi kembali. Laila juga sangat intens untuk mengembangkan kepribadian kaum perempuan di ranah PKK-nya. Di tingkat istri camat, sengaja diberi pelatihan penguatan kepribadian melalui pelatihan keterampilan berpidato misalnya.

Tak heran para istri camat di Aceh Besar kini sudah handal berpidato sendiri, tak lagi dengan sistem asistensi atau embel-embel mewakili bu camat.

Tahun lalu, sebagai evaluasi program di masing-masing lini, dibuatlah lomba pidato tujuh menit. Sebuah cara untuk mengukur sejauh mana dampak dari pelatihan demi pelatihan. “Peraturannya”, siapa yang sudah mendapatkan pelatihan, dia yang harus bicara untuk suatu kesempatan rapat terpadu misalnya. Sekarang, Laila dan timnya bisa berlega, kebanyakan anggota PKK Aceh Besar sudah bisa tampil ke podium. “Gak malu-maluin” istilahnya.

Sejak enam bulan lalu Laila juga sedang menggodok orang-orang PKK untuk belajar Bahasa Inggris. “Lumayan, minimal sudah ada yang bisa meng-SMS saya dalam bahasa Inggris. Jajaran kaum ibu ini pun sekarang sedang gencar-gencarnya menggarap program Kota Layak Anak, sebagai proyek percontohan.

Ada sebaris kisah mengesankan bagi Maslaila ketika berkunjung ke sebuah daerah pedalaman Aceh Besar. Kala itu Laila mendekati seorang perempuan separuh baya yang sedang menangis. “Kenapa menangis bu?” tanya Maslaila. “Selama saya hidup disini (di desa terpencil itu-Red), baru kali inilah seorang ibu bupati datang ke tempat kami,” jawab perempuan tadi. Inilah barangkali yang namanya spirit, empati, atau apapunlah namanya.

(nonlis dcp)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s