PENGAWAS SEKOLAH BERPRESTASI MENGANTAR ROHANA KE ISTANA

Bahagia, karena kerja kerasnya selama ini, ternyata membuahkan hasil. Itulah perasaan yang melingkupi Rohana SPd MPd, saat menerima predikat Pengawas Sekolah Berprestasi (PSB) Nanggroe Aceh Darussalam. Bukankah dia akan bertujuhbelasan ke Istana Negara? Juga betapa degup kegembiraan menyentak kalbunya, ketika mendapat hadiah umrah ke Tanah Suci pada 22 Agustus ini. Itu karena PSB.
Tapi bagi perempuan Pengawas Sekolah Kota Lhokseumawe ini, bukan rasa itu saja yang memenuhi relung batinnya. Yang lebih penting, buah perjuangannya itu makin mempertebal rasa terima kasihnya kepada Sang Khaliq. Setidak-tidaknya dia pun telah menjadi ibu berprestadi bagi ke empat putranya. Memberikan contoh kepada anak-anak, bahwa keberhasilan, baru akan datang dengan kerja keras, usaha yang terus menerus tanpa putus asa, dan doa kepada-Nya.
PSB di genggaman Rohana tentu tidak jatuh dari langit atau seperti mengedip mata. Menurut perempuan yang telah melahirkan tujuh karya tulis dan meraih delapan penghargaan ini, kecuali memenuhi persyaratan umum seperti masa kerja minimal empat tahun, ia punya nilai lebih dari peserta lain dalam sejumlah aspek. Sebut saja karena memiliki prestasi kepribadian yang lebih, kompetensi supervisi manajerial, kompetensi supervisi akademik, kompetensi evaluasi pendidikan, kompetensi penelitian dan pengembangan, serta memiliki kompetensi sosial. Ini pun, dilalui Rohana dengan kiprah yang panjang. Nun dimulai sejak Rohana menjadi guru SMP Buket Baro Montasik Aceh Besar, (1984-1988).
Seiring dengan waktu, dua jenjang prestasi yang turut mengantar dan mempermudah jalanya menuju PSB, adalah menjadi Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Lhokseumawe (1998-2000), dan Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Lhokseumawe tahun 2000-2003. Kemudian, sampailah Cekgu yang juga peminat dan penikmat susastra ini pada takdir menjadi Pengawas Sekolah Kota Lhokseumawe sejak 2003, dan sekarang dinilai berprestasi pula di level Aceh.
Menurut Rohana menjalani tugas seperti sekarang bukan tak ada jerih payahnya. Bukan tak ada dukanya. Terkadang sedih dan kecewa bergejolak merambati perasaan Rohana, bilamana hasil supervisinya tidak dijadikan salah satu barometer untuk mengukur kinerja pelaksanaan pendidikan, oleh pengambil keputusan.
Namun, dalam keseharian sebagai pengawas, semua kesedihan dan perasan tak enak tadi tetap ada penyeimbangnya. Ini yang telah membesarkan semangat Rohana. Dia beroleh romantika lain dari situasi dan kondisi sering bepergian ke sekolah-sekolah. Di tengah tugas kepengawasannya itu, Rohana pun bisa menambah sahabat, dan mempererat silaturrahmi. Beruntungnya lagi, Rohana makin bertambah pengetahuannya tentang siswa, guru, kepala sekolah, dan pengelola pendidikan lainnya.
Sekarang sulit tidak sulit, nyaman tidak nyaman, senang tidak senang, Rohana diberi tanggungjawab menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan, baik pada sekolah negeri maupun swasta dan sekolah lingkungan departemen agama untuk seluruh mata pelajaran/rumpun mata pelajaran, minus mata pelajaran agama dan rumpun mata pelajaran agama. Kloplah sudah dengan pekerjaan yang paling disukai Rohana, membina guru dalam pelaksanaan tugas di sekolah.
Di bawah standar
Lantas saat Seumangat menanyakan, sudah baguskah dunia pendidikan di Aceh? Rohana dengan miris menjawab,” kondisi pendidikan kita saat ini masih jauh di bawah standar yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan sekolah gratis untuk segala strata sosial telah memperparah keadaan. Karena pemerintah belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan pendidikan.”
Pelik juga rupanya pendidikan kita di mata seorang PSB yang satu ini. Menurutnya , mestinya pendidikan gratis dilaksanakan secara selektif seperti sunsidi silang. Artinya, siswa yang orangtuanya mampu, harus membayar. Sebaliknya siswa yang oranngtuanya tidak mampu, digratiskan saja dari segala biaya.
Memperbaiki keadaan tersebut, kata Rohana, diperlukan suatu sistem perencanaan pendidikan yang dapat mengatasi berbagai permasalahan. Karena tidak ada satu pun negara di dunia ini yang mengabaikan perencanaan dan pembangunan pendidikannya. “Keliru dalam perencanaan dan membangun pendidikan, maka berdampak buruklah pembangunan di sektor lainnya,” tandas Rohana.
Sebab itu, terutama bagi kaum perempuan, Rohana menyarankan hendaknya perempuan khususnya yang bergerak di bidang pendidikan, jangan bosan mengasah kemampuan, mempertajam wawasan, memperluas cakrawala berpikir, sekaligus berusaha mengangkat derajat dan martabat perempuan, hingga akhirnya bisa bersanding kemampuan dengan lelaki.
Bukan untuk ”membesarkepalakan” perempuan, namun terus terang Rohana mengakui kiprah perempuan dalam pendidikan sangatlah besar. Dia mengatakan, ibu adalah perempuan, dan perempuanlah yang disebut ibu, guru pertama bagi anak kita. “Faktanya, perempuan sudah terbilang unggul sekarang. Lihat saja, sekarang lebih banyak guru perempuan daripada guru laki-laki. Perempuan masa kini sudah harus diperhitungkan dan dihargai, dengan catatan harus berkualitas,” kata Rohana.
Dia percaya, tidak ada kiat ampuh untuk berhasil, kecuali doa dan keyakinan berusaha. Itu pulahlah yang mengantarkan Rohana pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Repulik Indonesia kali ini. Sebuah “petualangan” yang kan menjadi sejarah di jalur prestasi ibu penyuka membaca dan menulis ini.

(nonlis dcp)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s