BKOW PEDULI KELUARGA

Tabloid Seumangat :

Menurut Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Nanggroe Aceh Darussalam, Dra Naimah Hasan MA, BKOW merupakan organisasi federasi bagi orang-orang yang concern terhadap keluarga dan peduli dengan lingkungan.

Di hadapan siwa SMP-SMA banda Aceh dan sekitarnya, serta sejumlah perempuan dari berbagai unsur yang diundang untuk acara Advokasi Sosialisasi HIV dan AID Di Gedung Cut Nyak Dhien Rabu lalu, Naimah mengatakan, betapa tatakehidupan di Aceh hampir hancur. Ini harus dibangun kembali. Lalu akibat konflik yang berkepanjangan, bukan hanya strata dan struktur sosial yang hancur, tapi kondisi lingkungan untuk membangun kembali juga hancur. Belum lagi secara psikologis, perempuan dan anak ikut terkorbankan.

“Sebab itu, baik BKOW maupun kita, terutama kaum perempuan, harus punya komitmen membangun sebuah lingkungan yang kondusif untuk kita dan anak-anak kita, dengan tidak boleh melupakan akar budaya kita,” ajak Naimah.

Sehubungan Advokasi Sosialisasi HIV dan AID, Naimah juga mengajak kaum pelajar atau siswa, bisa menjadi penyambung lidah terhadap siswa yang lain setiap kali mengikuti kegiatan serupa. Sebab menurut Naimah, penyampaian oleh orangtua terkadang tidak lebih efektif, ketimbang yang menyampaikan pesan atau info tersebut adalah teman sebaya.

Mengapa dalam pemeperingati HUT RI kali ini, BKOW memilih hal-hal yang langsung berkenaan dengan perempuan dan anak? Tak lain lantaran komitmen tegas dari badan ini untuk “memakmurkan” anak dan perempuan sebagai bagian sebuah keluarga.

Aneka lomba yang digelar BKOW memang bukan kegiatan yang spektakuler, apalagi bukan sesuatu yang baru. Namun menurut Naimah badan yang dipimpinnya, sebenarnya hendak menanamkan rasa percaya diri, menumbuhkan kreatifitas dan jiwa berkompetisi perempuan dan anak, melalui lomba-lomba yang digelarnya.

Lomba pidato yang bertema Nilai-nilai Perjuangan Kemerdekaan dalam Mewujudkan Ketahanan Bangsa, misalnya. Kecuali sebagai sebuah ajang “laga”orasi, ada sisi lain sebagai target. Kalau bukan ingin mengajak kaum muda untuk ambil bagian di kegiatan positif, maka lomba ini hendak mengajak remaja berkreatifitas, berani tampil dengan kemampuan plus rasa peraya diri. Apalagi BKOW hanya mengkhususkan lomba pidato bagi anak perempuan saja. Ini juga nilai-nilai perjuangan dalam mengisi kemerdekaan.

Lantas lomba yang sangat mencuat sekali rasa kewanitaanya seperti lomba merangkai bunga berdimensi kemerdekaan RI, juga tidak bisa kita sepelekan. Sebab ini menyangkut daya kompetisi orang dalam berkretifitas. Merangkai bunga adalah satu kemampuan khas yang jika tidak berbakat, acapkali gagal dilakukan. Terlebih sekarang nyaris jarang urusan satu ini dikerjakan perempuan-perempuan kita. Boleh jadi karena sudah tersedia rangkaian “instant siap saji” yang diproduk para pedagang. Secara ilmu kejiwaan bunga atau tanaman juga semacam terapi jiwa.

Akan halnya lomba membubuh/lukis inai, panitia jelas-jelas ingin melestarikan salah satu seni budaya Aceh. Apalagi dikaitkan dengan sumberdaya manusianya, yang kini mulai sedikit. Percaya atau tidak, sekarang tidak mudah mendapatkan ahli lukis inai, padahal harus ada alih generasi untuk melestarikannya.

BKOW juga menggelar lomba marhaban. Sebuah kegiatan kesenian islami yang kembali mencuat di hampir setiap acara-acara seperti cukuran bayi, dan sebagainya. Mengapa perlu dilombakan? “Selain sesuai dengan nilai islami dan selaras dengan syariat islam, terus terang saya melihat yang ada sekarang kreatifitasnya belum kompetitif. Padahal kelompok marhaban, kian bermunculan. Tapi grup-grup marhaban sekarang tampil secara otodidak saja. Nah, dengan lomba inilah, kami berharap akan memotivasi pelaku kegiatan marhaban untuk muncul lebih bagus, lebih produktif. Kegiatan khas Aceh ini maunya lebih banyak orang tahu, yang pada akhirnya akan muncul tenaga-tenaga professional,” tegas Naimah.

Nah, tidak ketinggalan dengan Advokasi Sosialisasi HIV dan AID yang digelar 6 Agustus lalu, dan bekerjasama dengan PMI NAD itu. Panitia sengaja memaparkannya bagi generasi muda–juga sebagian kecil undangan kaum perempuan. Seperti kata seorang pembicara, itu karena generasi muda adalah sosok-sosok yang masih ingin coba-coba mengenal sesuatu dalam mencari jatidirinya. Jadi memang kepada remaja dululah membicarakan HIV/AID, yang dominan disebabkan oleh tatapergaulan yang salah tersebut.

Versi Maulana Rahulsyah, pelajar SMPN 3, merasa advokasi ini bagus sekali baginya. Apalagi dia belum pernah mendengar panjang lebar soal HIV/AID. “Paling tidak kita kan bisa waspada. Apalagi saya kan di PMR sekolah. Harus tahu kan.”

So, secara umum, akankah ragam kegiatan seperti ini bisa menjawab kegelisahan akan sulitnya mencari tenaga yang handal dalam bidangnya sekarang ini? Tentu tak di lini ini saja, dan bukan BKOW tok yang harus menjawabnya bukan?

(nonlis dcp)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s