BLUNT OH BLUNT

Serambi Indonesia : 25/05/2008 10:22 WIB

[ rubrik: Serambi | topik: Entertainment ]

Pengantar:

Pada tanggal 18-22 Mei lalu, PT Djarum mengundang sejumlah wartawan media cetak dan televisi se-Sumatra, Kalimantan, dan Jakarta untuk mengikuti acara Media Gathering di Tangkuban Perahu, Cikole, Lembang, Bandung Jabar, dan even internasional LA Lights Consert James Blunt All the Lost Soul di Senayan Jakarta. Wartawati Serambi Indonesia, Nani HS yang ikut dalam rombongan menurunkan dua tulisannya sejak hari ini.

BLUNT oh Blunt, seseorang nyeletuk dari keramaian penonton. Ia terkesima, melompat-lompat, lalu memanggil-manggil Blunt lagi. Benarkah James Blunt si musisi Inggris penerima BRIT Award dan lima kali meraih nominasi Grammy Award itu, telah memukaunya?

Rabu malam, 21 Mei 2008, tata panggung James Blunt memang sederhana. Hanya dilatarbelakangi satu monitor besar, diikuti dekor langit-langit dari 13 potongan kain merah belasan meter yang diarahkan ke penonton, dua layar monitor di kiri kanan panggung, dan perangkat band seperti biasa, efek kabut/asap, lalu sekali-kali panggung dimaraki estetik lighting, plus klip Blunt dengan setting tempat-tempat tertentu. Itu saja. Begitu pun ruangan Tenis Indoor Senayan Jakarta, memang hanya terisi sekira 2000 lebih penonton dan tak sampai 3000, seperi kapasitas ruang bertempat duduk tribun itu.

Namun LA Lights Consert James Blunt All the Lost Soul pada pukul 21.00 WIB itu, terhitung semarak dan memiliki ruh Blunt yang aktraktif dan fokus. Dengar saja applause penonton, terlebih dengan style beragam. Bertepuk tangan, meneriakan bunyi uuu…, memanggil-manggil blunt. Bahkan di luar, sejak pukul 16.00 dari panggung

bertajuk Jazz Blunt yang digelantungi panji-panji LA Lights di halaman depan hall D Senayan, terdengar lagu-lagu James Blunt. Di pentas sejajar dengan lantai sekitar 3 x 4 meter tersebut, presenter Gugun Gondrong juga bagi-bagi hadiah langsung bagi siapa

saja yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar lagu dan karir Blunt. Juga bagi yang tampil ke pentas untuk menyanyi lagunya Blunt. Tak luput dari mereka yang tak punya modal suara apalagi pernah menyanyi dengan band. Yang penting berkespresi.

So, beberapa panitia, 52 wartawan dari Sumatra, Kalimantan, Jakarta yang diundang untuk acara Media Gathering Journalist Das Out Fun & Challenge PT Djarum, sama-sama mejeng untuk Jazz Blunt.

Ada beberapa artis lain di situ. Sebut saja Dewi Sandra, Dimas Andrean, Shiren Sungkar. Mungkin juga sajian prakonser ini yang membuat konser Blunt lebih bersemangat.

Begitu senja mulai turun pengagum Blunt satu-satu, berkelompok, atau pasang-pasangan beranjak masuk. Tidak sedikit penonton bule tua muda hingga remaja dan anak-anak datang untuk tontonan seharga Rp 500-650 ribu/orang itu.

Ketika pentas menyemburatkan cahaya-cahaya meriah dengan konfigurasi memikat, dan tetabuhan drum yang menggelegar, Blunt mania mulai bereaksi dan mengekspresikan kegembiraan masing-masing. Lebih-lebih ketika Blunt dengan stelan tak begitu resmi (jas mendekati warna pastel dengan dalaman kaus berkerah hampir pink) benar-benar muncul, sebagian penonton serta merta berdiri memberi apresiasi.

Blunt memecah ruangan dengan nomor pertama, Give Me Some Love. Beat lagu ini sempat membangunkan penonton di daerah depan, berdiri dari lesehannya. Tak sampai separuh lagu, close up wajah Blunt sudah muncul. Menjeritlah sang pengagum. Bagai bertemu dengan sosok yang sudah lama tak bertemu, seperti rindu telah pecah. Terlebih bila Blunt mengarah pandangnya tepat ke lensa monitor, seolah Blunt sedang melempar pandang hanya kepada kita. Seakan-akan bertatap langsung.

Setelah lagu Billy, High, I Really Want You, Cerry You Home, titik-titik kecil keringat Blunt sediki-sedikit meleleh dari gondrong pirangnya yang mulai tipis. Blunt membuka jasnya. Penonton bersorak lagi. Bukan sorak mengejek. Blunt… Blunt.., begitulah yang terdengar. Malah Serambi sempat mendengar seorang perempuan berseru, Blunt gagah.

Benar Blunt memang lebih menonjol karakter sederhananya dengan hanya memakai setelan kaus berkerah itu. Itulah Blunt si low profile kelahiran Tidworth, Wiltshire, Inggris, 22 Februari 1974, yang paling tak suka masuk jajaran selebriti. Lelaki yang terlahir dengan nama asli James Hiller Blount, yang lebih percaya diri kemana-mana dengan setelan jeans plus oblong.

Blunt mulai tampak asli dan kesederhanaannya, apalagi ketika ia melepas gitar akustiknya, lalu duduk menyamping dan beraksi di piano dengan segenap bahasa raganya, Blunt tampak lebih macho. Sekali-kali matanya tepat lagi di lensa. Kalau gembira mata itu berpendar, kalau sedih mata itu seperti memancarkan redupnya, dan sekali-kali Blunt mengangkat tangannya seirama dengan kepedihan Goodbye My Lover. Inilah barangkali yang membuat penonton terbuai bersama interpretasi masing-masing.

Pada nomor ketujuh dan kesebelas, Goodbye My lover, dan You´re Beautiful, klimakslah suasana di Tennis Indoor Senayan. Lagu-lagu itu, lagu hit James Blunt. Atau kelarutan itu, boleh jadi lantaran bening suara dan cengkok Blunt yang pas, hampir persis warna produk rekamannya. Atau, bisa saja karena totalitas Blunt untuk kedua lagu melo tersebut. Ya mimiknya, penekanan-penekan pada gerakkannya, tatapan atau pejaman matanya. Sebelum Blunt, kita memang pernah mendengar lagu sendu itu lewat penyanyi lain. Tapi buat pengagum Blunt, tentu Bluntlah yang lebih apik menyuarakannya, apalagi suara falsed kekasih Petra Nemcova ini keluar dengan wajar dan bening.

Serambi sempat menanyakan perasaan Iyut, gadis Padang yang ke Jakarta untuk menonton Blunt. Aduuuuuuh, gimana ya, bahagia banget saya. Lagu Goodbye My Lover tadi loh.aduuhh cht..cth..cth, Duh, duh..duh.itu lagu favorit saya. James nyanyiinnya itu pas, persis kayak di kaset saya. Mana gayanya itu…uhhhh, kata Iyut sembari mendekapkan kedua belah tangan ke dadanya. Tapi Hendra yang penonton asal Jakarta, menanggapi konser Blunt seadanya saja. Yaaa…lumayanlah. Tidak jelek, ungkapnya hanya dengan senyum kecil saja.

Mungkin penggemar yang belum pernah menonton konser Bluntlah yang sumringah dengan Consert James Blunt All the Lost Soul ? Yah, terserah masing-masinglah ya. Yang jelas sebagai pihak sponsor, melalui Adhiarta Tirtaaji (PR Officer PT Djarum Perwakilan Jakarta) mengatakan, pemilihan James Blunt telah sesuai dengan kelas dan karakter produk Djarum. Membumi, begitu kira-kira. Senada dengan promotor, Adrie Subono (JAVA Musikindo), yang ketika konferensi pers Rabu lalu, mengatakan Blunt adalah sosok sangat sederhana. Blunt mudah bekerjasama. Blunt sosok yang banyak menggondol penghargaan. Lagu-lagu Blunt juga pernah hit di negeri ini.

Begitulah Blunt yang tak suka dinilai dari sisi uangnya yang banyak, telah melantunkan nomor-nomor hit dari album debutnya Back to Bedlam (2005), bagi penggemarnya di Indonesia, untuk yang pertama kalinya. Judul 1933 adalah nomor terakhirnya malam itu. Lalu Blunt cs tampil bersama memberikan apresiasinya kepada penonton. Penyanyi yang ingin di hari tuanya menetap di Irlandia ini, lalu memotret penonton dengan telepon selularnya. Berkali-kali kata thank you keluar dari mulutnya, habis tak habis dia melambai hingga membuat pengagumnya menjerit-jerit. Penonton tak juga beranjak sebelun panggung benar-benar gelap. Seolah publik di Tennis Indoor Senayan belum puas dengan 18 lagu dari Blunt. Pertunjukan hampir satu jam agaknya tak bisa menghapus rindu. Namun, wajah-wajah yang keluar dari arena art pop James Blunt nyatanya banyak menyemburatkan kelegaan, ada cahaya suka cita. Seperti kita menimati sebuah kesedarhanaan. Kecil, berkesan dan menyenangkan. Blunt oh Blunt.

(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s