ADI RUNNER UP : PERSEMBAHAN UNTUK ACEH

Serambi Indonesia : 03/07/2005 02:34 WIB

[ rubrik: Serambi | topik: Entertainment ]

“Aku tidak mungkin lupakan Aceh. Aceh adalah tempat kelahiranku. Aku orang Aceh. Sampai sekarang ngomong pun aku masih berlogat Aceh“.

Di Pentas Kontes Dangdut Indonesia (KDI) II malam tadi, Adi Alfaisal (22) memang telah mencuatkan segenap kemampuannya. Entah lantaran lagu Baca (Cipt. Rhoma Irama) relevan dengan suara hatinya yang belum bisa melupakan musibah gempa dan tsunami 26 Desember lalu, atau memang ia cocok dengan lagu beat tenang tersebut. Yang jelas Adi sudah berusaha total melantunkan Baca, dan ia berhasil mendapat sokongan penonton termasuk Plt Gubernur NAD Ir Azwar Abubakar berserta istri, Walikota Banda Aceh, Ir Mawardi Nurdin, dan sejumlah anggota DPRD, serta warga Aceh yang menonton langsung ke arena.

Untuk tembang Baca pun Adi sempat beroleh ratting tertinggi, yang ikut membuat raut tanpa jenggot Azwar Abubakar, cerah ceria, dan mengulum senyum. Begitupun ada anggota DPRD NAD yang men-support- sampai berdiri pula. Entahlah, mungkin hal yang sama terlukis di wajah belasan ribu penonton di NAD yang sejak lepas magrib rata-rata nonton bareng di banyak tempat, di warung kopi, kafe, termasuk di gedung Sosial yang digelar Dinas Kebudayaan.

Namun pada detik-detik yang mendebarkan pendukungnya, menjelang pukul 23.00 WIB, mimpi Adi dan kita, tak sampai pada kenyataan. Adi harus menerima nasib “dijegal“ Gita, geulis dari Garut, audisi Bandung. Adi hanya Juara II. Persis ketika ketiga finalis tersebut muncul ke pentas, Adi tetap berada di tengah. dengan ratting SMS 33,21 %, satu poin di bawah Gita (34,09 %), dan satu poin lebih tinggi dari Eka Bima (32,70 %) asal Bima audisi Denpasar.

Kita mungkin menjerit kecewa. Tapi malam tadi, Adi kelihatan lega, tak segurat pun muncul garis kecewa di wajahnya. Senyumnya tetap memamerkan giginya yang rapi. Ia tetap bahagia dan ikhlas, bahkan di binar matanya tetap ada kilau suka cita. Mungkin bukan karena Daihatsu Taruna sudah di tangan, tapi barangkali ia tetap merasa berlapang dada karena masih bisa membanggakan tanah kelahirannya, sanak keluarga, dan seluruh pendukungnya.

Hanya sampai disitukah kemampuan Adi? Tentu sangat kompleks jawabannya. Bukankah sejak babak finalis (20 besar) kita tidak mutlak lagi bicara soal kemampuan? Terserah Anda, Tapi, jangan lupa, faktanya, di dunia tarik suara berskala nasional, Adi telah mengukir prestasi berprestise untuk Nanggroe Aceh Darussalam ini. Tentu kita tak pantas kecewa karena Adi tak sempat juara KDI II bukan? Sebab Adi baru memulai perjuangannya, karirnya, masa depannya. Masih ada harapan seluas jangkauan Adi Alfaisal Abdussamad. Diam-diam kita pun ingin mengenal Adi lebih jauh.
Serambi sempat mewawancarai Adi seputar perjuangannya di kancah KDI, ihwal perasaannya, suka dukanya, dan orang-orang yang telah berjasa atas karir nyanyinya itu.
“Ini persembahan saya untuk Aceh yang sedang dalam dukacita,“ kata Adi mengenai penampilannya di puncak tangga KDI II yang diselenggarakan TPI, Sabtu malam.

Berbekal tekad dan keinginan yang sangat kuat, Adi bagai meteor melesat sangat cepat sampai ke tangga teratas. Adi kini menjadi bagian dari dunia entertaint yang sejak lama dicita-citakannya. Kiprah dalam dunia tarik suara adalah impian yang dibangunnya semasa kecil. Jalan ke arah itu kini telah terkuak lebar. Adi siap meraih impian itu.

Lahir di Peunagan Rayeuk, Aceh Barat, 3 November 1983. Sempat kuliah di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh. Tapi, tak selesai. Kemudian memilih hidup sebagai anak panggung yang acap muncul di pesta-pesta perkawinan dengan kelompok organ tunggalnya. Dari kerja menyanyi seperti itu, sehari bisa membawa pulang Rp 50 ribu.

Ketika mengikuti KDI, remaja yang bernama lengkap Adi Alfaisal ini harus mengusung beban yang tidak kalah beratnya. Ibunya, menjadi korban peristiwa gelombang raya (tsunami). Sampai sekarang jenazahnya belum ditemukan. Adi sekeluarga berdomisili di Desa Suak Puntong, sekarang berada dalam kawasan Kabupaten Nagan Raya. Desa itu dikabarkan hancur akibat tsunami. Ketika peristiwa tersebut terjadi, Adi sedang berada di Banda Aceh. Ayahnya, Abdussamad (Keuchik Amat) selamat bersama tiga adiknya.

“Bagai ada belahan jiwa saya yang hilang ketika tampil pertama kali di panggung KDI Jakarta,“ kata Adi mengenang peristiwa getir tersebut. Namun, Adi bukan laki-laki yang suka menyerah. Bendera perjuangan ke tangga puncak KDI sudah dikibarkan. Seolah mewakili semangat Teuku Umar yang pantang surut. Berikut penuturan panjang lebar Adi tentang kiprahnya menggapai KDI.

Apa makna KDI bagi Anda?
Ini adalah pintu bagi saya untuk meniti karier dalam dunia entertaint. Berkiprah dalam dunia hiburan adalah cita-cita sejak kecil. Aku ingin benar jadi seorang penyanyi. Alhamdulillah, jalan sudah terbuka dengan ikut KDI. Aku memang belum jadi artis ternama, tapi jalan ke arah sana sudah ada. Dengan jalan ini aku akan bisa meniti karierku dan mencapai cita-cita. Aku ingin eksis di dunia entertaint, terutama dangdut.

Apakah Adi pernah membayangkan bakal berjejer di puncak KDI?
Sama sekali tidak. Untuk masuk lima besar saja rasanya susah. Aku malah membayangkan akan tersisih pada babak-babak awal. Tapi, alhamdulillah, semua bisa terlampaui.

Apa rencana Adi selepas KDI ini?
Aku akan terus bernyanyi. Meskipun kontrak KDI sudah selesai, aku akan tetap berusaha untuk terus meniti karier di bidang nyanyi ini.

Adi akan menetap di Jakarta?
Selesai ini saya akan pulang dulu ke Aceh sebentar, bikin selamatan. Sebab, aku tidak mungkin lupakan Aceh. Aceh adalah tempat kelahiranku. Aku orang Aceh. Sampai sekarang ngomong pun aku masih berlogat Aceh. Kalau aku mampu bikin rumah, maka aku akan bangun dulu rumah kami yang di Aceh.

Kalau nanti menitir karier, apakah memilih Jakarta?
Insya Allah.

Apa yang akan Anda sampaikan kepada rakyat di Aceh?
Ini adalah persembahan saya untuk Aceh yang kebetulan sedang diguncang bencana. Kita harus bangkit. Saya dengan segala kemampuan yang ada dengan sekuat tenaga akan maksimal. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Semoga dangdut akan terus jaya di Aceh dan Indonesia.

Bisa diceritakan, bagaimana awalnya Anda ikut KDI?
Saya kan dari Meulaboh. Ketika dibuka KDI pertama, aku terlambat mendaftar. Lalu aku bertekad untuk ikut pada KDI 2. Aku punya abang angkat di Banda Aceh dan punya rekaman album Aceh Hai Bungong. Ketika akan ikut KDI 2 sempat terhambat, karena biaya untuk ke Medan tak ada. Waktu itu aku benar-benar teungoh putoh that, tak ada duit. Tapi, alhamdulillah, ada saja jalan keluar. Abang angkat saya, Abdullah Johan yang biasa saya panggil Wak Dul dan berdomisili di Banda Aceh, bersedia membiayai keberangkatan saya ke Medan. Wak Dul pula yang mendesak saya segera kembali ke Banda Aceh untuk selanjutnya berangkat ke Medan. Waktu itu saya sedang di Meulaboh. Saya ke Banda tanggal 8 Desember dan langsung hari itu juga lanjut ke Medan, karena KDI ditutup pada 9 Desember. Artinya, hanya ada waktu satu hari buat saya untuk mendaftarkan diri. Sampai di Medan, rupanya pendaftaran KDI diperpanjang. Aku lega. Di Medan aku berjuang keras untuk lolos 50 besar. Alhamdulillah, berhasil. Selesai audisi aku pulang ke Banda Aceh. Aku ingat, tanggal 15 Desember aku balik ke Aceh. Aku bahagia sekali karena bisa lolos di Medan. Itu artinya aku akan ke Jakarta untuk ikut tahapan selanjutnya. Wak Dul juga bahagia. Aku dan Wak Dul kemudian bikin rencana show pada tanggal 1 Januari 2005 di Lapangan Lampineung Banda Aceh.

Apa terlaksana show tersebut?
Belum sempat show, datang gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Padahal, di Banda Aceh saya punya keyboard tunggal. Dengan itulah saya mentas di berbagai tempat dan kesempatan.

Jadi saat kejadian tsunami, Anda di Banda Aceh?
Iya. Saya ada di Blower saat itu. Tidur di rumah teman. Saat gempa, saya dan teman-teman buru-buru ke luar. Suasana benar-benar panik. Situasi makin kacau ketika dikabarkan air laut naik. Kami buru-buru menyelamatkan diri dengan naik ke lantai dua sebuah sekolah dasar yang ada di Blower. Kami baru turun setelah air surut dan kemudian mengungsi ke Keutapang. Kami menumpang di rumah teman, Ira namanya. Selama empat hari kami menumpang di rumah Ira. Sama sekali saya tidak mendengar kabar berita Wak Dul. Lebih-lebih kabar orang tua di Meulaboh. Saluran telepon kan waktu itu putus total. Pada hari keempat, saya mencoba mencari Wak Dul. Dia tinggal di Darussalam. Alhamdulillah kami ketemu. Wak Dul kemudian mengajak saya ke Aceh Utara. Abang angkat saya ini, berasal dari Aceh Utara.

Nasib keluarga bagaimana?
Sama sekali gelap. Saya baru dapat informasi tentang keaadan keluarga di Suak Puntong, Kabupaten Nagan Raya, pada hari ke-12. Ketika itulah saya tahu rumah saya habis, ibu meninggal dan sampai sekarang tak ketemu jasadnya. Ibu hanyut bersama seorang adik, yang selamat dan tersangkut di pohon karet. Ayah dan dua adik saya yang lain juga selamat.

Ayah Anda selamat. Apakah saat kejadian beliau tidak sedang di Suak Puntong?
Sesaat setelah gempa besar terjadi, ayah mau menelepon saya ke Banda Aceh. Ayah khawatir keadaan saya. Untuk bisa menelepon ke Banda Aceh, ayah harus ke Meulaboh. Karena di kampung tidak ada telepon. Ayah pergi naik sepeda motor. Dua adik saya minta ikut. Akhirnya mereka bertiga berboncengan ke Meulaboh. Tapi di tengah jalan, air naik. Ayah lalu memacu sepeda motornya ke arah yang aman. Selamatlah mereka. Sementara di rumah, tinggal ibu dan seorang adik saya yang lain. Keduanya ikut dihempas gelombang tsunami. Ibu tak tertolong dan sampai sekarang tak ditemukan. Kami empat bersudara. Saya anak tertua.

Siapa saja anggota keluarga Anda yang jadi korban tsunami?
Ibu, nenek, adik sepupu, dan adik ayah.

Sempat mengunjungi kampung halaman?
Sempat. Saya datang menumpang dengan helikopter bantuan asing. Pada saat itulah saya saksikan dengan mata kepala sendiri kerusakan yang terjadi di kampung kami. Luar biasa parah!

Lalu bagaimana kemudian Anda ikut KDI lagi?
Perasaan saya memang sangat kacau waktu itu. Bayangkan, kampung habis. Ibu tak ada. Ayah berada di tempat pengungsian. Namun, saya harus kuat dan bertekad untuk terus maju. Saya lalu berangkat ke Medan dan mencari dukungan ke berbagai pihak. Saya temui para pejabat di sana, seperti Walikota Medan, Bupati Deli Serdang dan lain-lain. Alhamdulillah mereka sangat mendukung. Kami memang sudah diberi tiket oleh panitia. Dari Medan ini pulalah saya bersama lima wakil KDI Medan lainnya berangkat ke Jakarta dan dijemput oleh kru Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Saya akhirnya mewakili Medan karena di Aceh tidak ada audisi.

Apakah Anda tidak terbebani ketika tampil di panggung KDI Jakarta, mengingat keluarga Anda ikut jadi korban tsunami?
Terus terang, saya terganggu sekali dengan kenyataan tersebut. Makanya pada penampilan saya pertama, terasa ada yang kurang. Kayaknya ada yang hilang. Seolah setengah dari kehidupan saya telah raib. Mengenang ibu yang sudah tiada, begitu juga dengan rumah yang hancur. Rasanya benar-benar ada yang hilang. Saya tampil tidak total. Saya bisa saksikan bagaimana penampilan saya yang tidak total itu setelah menyaksikan video rekamannya. Seolah-olah saya menjadi orang yang ketakutan. Padahal, sebelumnya saya kan biasa manggung dan berhadapan dengan penonton. Tapi, entah kenapa saya menjadi sangat takut sekali melihat kerumunan massa.

Pergaulan sesama peserta KDI sendiri bagaimana? Apakah Adi tidak merasa tersisihkan?
Alhamdulillah, pergaulan kami sangat menolong jiwa saya. Teman-teman menaruh simpati semua. Termasuk mereka yang sudah terjemput (tereleminasi). Mereka terus memberi suport. Padahal boleh dibilang sesama kami di sini adalah lawan. Tapi kenyataannya tidak. Sangat membantu jiwa saya. Mereka malah bilang, walau orang tua sudah tidak ada, tapi kamu harus bangkit. Wah, kami benar-benar akrab sekali.

Apakah dalam setiap penampilan Adi di KDI, ayah dan adik-adik selalu nonton?
Iya, tiap Sabtu mereka pergi ke Seunagan. Di sana kan tidak mati lampu. Televisi bisa menyala. Pokoknya tiap malam minggu mereka pasti menyaksikan saya. Kebetulan ayah juga sudah empat kali datang ke Jakarta menyaksikan saya di KDI.

Kontak dengan Ayah terus menerus?
Iya. Sekarang sudah bisa kontak tiap hari. Saya sudah pakai handphone.

Adi belajar nyanyi sendiri atau ikut kursus?
Sendiri. Mana ada kursus di Meulaboh. Aku bakat alam. Sejak kecil aku senang nyanyi. Aku sering nyanyi di karaoke dan kemudian gambung dengan organ tunggal. Di situlah bakat nyanyi saya lebih berkembang. Aku sering diminta nyanyi untuk acara-acara orang kawin. Honornya Rp 50 ribu. Organ tunggal di Meulaboh punyanya Mawardi. Di Banda Aceh ada yang namanya Soni.

Apakah orangtua juga penyanyi?
Tidak. Tapi, ayah pintar mengaji dan suka musik. Kalau ibu saya biasa-biasa saja. Bakat ayah itulah yang menurun dalam diri aku.

Kenapa memilih jenis musik dangdut?
Saya memang suka dangdut. Dari kecil saya sudah suka dangdut. Sejak kecil pula saya sudah menyanyikan lagu-lagu dangdut. Bapak saya sering mengajak dalam acara-acara orkes dan saya selalu disuruh nyanyi oleh bapak. Menurut aku, dangdut enak didengar. Seninya lengkap di dangdut. Ada mendayu, gembira dan dangdut itu sangat memasyarakat. Semua golongan bisa masuk. Di desa masuk, di kota juga digemari. Bahkan sekarang ini, dangdut masuk ke acara-acara tertentu. Jadi, kayaknya aku tidak salah memilih jenis musik ini.

(fikar w eda/nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s