WELL, MENYESALKAH ANDA YANG…?

SERAMBI INDONESIA

30/01/2005 05:29 WIB

SETIAP musibah ada hikmahnya, begitu janji agama, pertanda kasih sayang Sang Khalik. Tak bisa dipungkiri, tsunami pun tentu tidak hanya membawa bencana bagi Aceh. Tetap ada dampak baiknya. Sebut saja, lantaran kehadiran bangsa asing di Naggroe Aceh Darussalam ini, kendati temporer, nyatanya membuka usaha baru di lini penerjemah, hingga mereka yang punya keterampilan berbahasa asing, ikut mengomersilkan jasanya.

Banyak hal yang memotivasi para penerjemah ambil bagian. Dari sekadar mengisi waktu karena vacum dari pekerjaan utama, sampai yang semata-mata berorientasi finansial. Ada juga dari kalangan mahasiswa yang bahasa asingnya belum “mapan” meramaikan suasana. Kecuali sebuah kesempatan mengejar keterampilan bahasa dalam kondisi native speaker (pengguna bahasa asli), plus mengasah percaya diri, mereka pun bekerja.

Selebih itu, ada yang dilatarbelakangi dapat supaya menyatu dalam wahana mengaktualisasikan diri. Tapi jangan salah, ada pula translater yang benar-benar menempatkan diri sebagai relawan sejati. Dalam artian tidak minta dibayar. Semata-mata didorong rasa ingin berbuat sekaligus memperlancar penguasaan bahasa asing.

“Tapi saya tidak memilih kelompok relawan yang bahasa Inggrisnya baik. Dari Amerika misalnya. Tentu kemampuan saya jauh tertinggal nantinya. Lebih baik saya bekerja dengan tenaga asing yang relatif sama kemampuan bahasa Inggrisnya dengan saya,” ungkap Nahrasiah yang pernah bergabung dengan relawan Samur dari Spanyol, awal Januari lalu.

Tapi bahasa Inggris bukan satu-satunya yang “laris manis” di kancah penyambung lidah orang asing dengan orang Aceh pascatsunami. Sama seperti orang Indonesia yang tak bisa berbahasa Inggris, begitu pula orang Perancis, Jepang, Korea.

Di Banda Aceh tentu sedikit yang handal berbahasa Perancis, itu sebabnya translater-nya dari kalangan dosen yang pernah belajar ke negeri pashion tersebut. Sayang kalangan ini tak bersedia berkomentar banyak, apalagi menyangkut duit.

Akan halnya dengan relawan atau pekerja dari Jepang. “Mereka lebih nyaman bekerja dengan translater yang bisa berbahasa Jepang. Itu sebabnya mereka lebih mengutamakan orang-orang yang bisa berbahasa Jepang. Atau dari mereka yang pernah tinggal di Jepang. Boleh jadi karena mereka kurang menguasai bahasa Inggris. Yang jelas mereka kebanyakan mengenal bahasa Inggris dan bahasa Jepang saja,” kata seorang wartawan dari Nippon Hoso Kyokai yang enggan dipublikasi.

Dalam satu putaran kedatangan relawan dari Korea yang sempat bergabung dengan Rumkitdam Banda Aceh, justru mengikutkan sosok yang bisa berbahasa Indonesia dari negerinya, termasuk orang Indonesia yang bisa bahasa Korea. Jadi sebagai bahasa perantara di Aceh, mereka memilih Korea-Indonesia, bukan bahasa Inggris. Lalu samakah besaran rupiah untuk jasa bahasa Inggris atau bukan?

Relatif sama, seperti pengakuan translater untuk bahasa Prancis (salah seorang dosen Unsyiah Banda Aceh yang pernah mengambil S-2 di Prancis). Antara 50-150 dolar US per hari.

Namun pantauan Serambi, jam kerja satu hari untuk penerjemah kebutuhan kalangan jurnalis, sama dengan 24 jam. Untuk tenaga yang ditempatkan di bagian kantor/administrasi tentu terkait dengan jadwal jam kerja.

“Mereka (pihak pengguna jasa-red) yang memilih sebagai penerjemah bagi kerja jurnalis tidak punya jam kerja tertentu. Tidak hanya difungsikan sebagai penerjemah. Tapi mereka juga harus bisa memberi ide bagi peliputan. Tak lupa pengetahuannya tentang daerah liputan. Jadi, dipakai jasa bahasa dan idenya,” ungkap Isa dari salah satu broadcasting negara tetangga.

So, bisnis transfer bahasa ini rupanya memang relatif menjanjikan. Tak heran orang tak segan-segan mengiklankan job satu ini. Baik yang resmi maupun “ilegal”, seperti penempelan pada papan-papan pengumuman di tempat-tempat umum, bahkan telah menyamarkan “kecantikan” pilar-pilar bangunan sekitar Media Centre di Meuligoe Aceh. Diterakan lengkap dengan nomor kontak. Tapi heran juga, entah mengapa, enam nomor yang dicoba Serambi kemarin siang, nyatanya tak berhasil dikontak. Tak tersambung, tak dijawab, dan sudah pindah alamat ke Jakarta. Mungkin sudah habis tugasnya di Banda Aceh ya?

Seberapa menguntungkan “dunia usaha” ini?

“Lumayan, tampaknya saya bisa mengganti perangkat kerja saya yang hilang waktu tsunami. Kalau dikontrak berbulan-bulan, mungkin saya tidak saja bisa beli kamera dan komputer, tapi juga mobil,” sebut seorang wartawan salah satu harian yang mengisi waktu luangnya sebagai penerjemah bahasa. Dia memang tak mau mengakatan besaran tarif jasanya itu, namun itulah gambaran salery yang bakal pindah ke dompetnya.

Dari sejumlah penerjemah yang ditanyai Serambi, kisaran tarif jasa mereka adalah 50-150 dolar AS. Kalau 1 dolar sama dengan Rp 9200, itu artinya dalam waktu enam bulan sang translater dengan tarif 150 dolar AS/hari bisa saja mengantongi Rp 248.400.000. Nilai yang menggiurkan dari satu lahan kerja dadakan. Atau kalkulasikan saja dalam dolar AS sebab tak semua pihak menggunakan dolar US.

Dalam memilih jadwal kontrak, memang kebanyakan memanfaatkan masa kontrak jangka pendek. Misalnya per hari dengan bayaran 100-200 dolar US. Ada juga yang dibayar 50 dolar US, tapi dikontrak untuk jangka panjang, minimal tiga bulan. Toh setelah dihitung-hitung value-nya relatif sama atau lebih banyak. Well, menyesalkah kita yang tidak bisa berbahasa asing dari dulu? Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar bukan? Keep learning!.

(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s