PESONA KECERIAAN DI SEKOLAH TENDA

SERAMBI INDONESIA

13/01/2005 02:23 WIB

 

Di gerbang TVRI Banda Aceh sayup-sayup terdengar suara ceria anak-anak. Saat itu hari menjelang siang. Suara itu, menarik minat banyak orang mendekatinya. Makin mendekat makin terdengar suara yang sesungguhnya. “Koor“ anak-anak mendendang lagu berdimensi Islami rupanya. Buat apa susah, buat apa susah/Ngaji itu besar pahalanya/Buat apa susah, buat apa susah/Ngaji itu hilang duka lara. Itulah sekuplet lagu riang yang menggema dengan kompak dan heroik dari 70-an anak usia sekolah, bahkan ada yang masih kelas nol kecil Taman Kanak-kanak.

 

Serta-merta merayap rasa duka di dada kita. Padahal wajah para bocah sepenuhnya menyemburatkan rona ceria. Benar-benar gembira. Mereka cuma berpakaian seadanya, dengan kaki tak sebersih anak sekolah yang sebenarnya. Mereka bahkan tak saling kenal sesama, karena mereka bukan teman sekelas dari sekolah yang sama. Bahkan sebentar lagi mereka bukan pulang ke rumah seperti biasanya. Tapi bocah-bocah cerira itu bakal bersempit-sempit di kamp penampungan yang mulai lembab. Sungguh, kini membuat orang menjadi sadar. Di tengah keperihan amukan tsunami dua minggu lalu, tak terkira bagaimana para bocah “bisa“ sejenak melupakan mimpi buruknya. Lihatlah tepuk tangan mereka. Begitu bersemangat ketika melagukan lagu Indonesia Raya. Dari lantunan lagu itu bagai terhampar terawang harapan untuk hari depan. Itulah pesona keceriaan dari sekolah tenda.

 

Dan, lihat pula, bagaimana lantang dan lancarnya mereka menjawab hampir seluruh pertanyaan ustaz dan ustazah dari Forum Ukhuah Umat Islam Sumatera Selatan (FUUISS). Bukanlah ngecap, FUUISS mengetengahkan sejumlah pengajar yang handal. Mereka agaknya memang tahu bagaimana menyajikan pelajaran di kelas dan kiat berdakwah di tenda, yang hanya seukuran sekitar 4×5 meter. Agak sempit, memang. Bayangkan bagaimana rasanya 70 anak-anak berteduh dari siang yang terik dan di bawah tenda berwarna hitam pula. Tapi, begitulah dunia anak-anak. Mereka tetap bersemangat dan ceria.

 

Apalagi para pengajar rupanya mampu membuat anak-anak pede abis. Siapapun dari mereka yang ditunjuk tampil ke depan, tak malu-malu unjuk kemampuan. Bukan tak adapula anak yang salah melafalkan bunyi ayat al-Quran misalnya. Tapi tak patah semangat. Nyatanya mereka tetap berusaha membaca yang benar ketika dituntun dengan bijaksana. Kita pantas memuji semangat belajar anak-anak yang sudah tak memiliki sekolah itu lagi. Sudah tiga hari sekolah alternatif ini digulirkan FUUISS. Selama itu anak-anak pengungsi komplek TVRI kembali mencerahkan daya belajarnya. Selama itu pula mereka bergembira ria, tak hanya duduk-duduk di tenda. Yang lebih penting apapun materinya, senantiasa dilakukan dengan pendekatan Islam.

 

Mungkin, begitulah kesan yang tampak, begitu pentingnya performa kegembiraan ditampilkan di sekolah ini. Mungkin saja sebuah terapi dari FUUISS, entahlah. Faktanya salah satu stasiun tv swasta Indonesia yang berminat mewawancara langsung anak-anak ini, diingatkan habis-habisan oleh organisasi yang salah satu patnernya pihak rumah sakit Yordania ini. “Jangan tanya lagi hal-hal yang membuat mereka bersedih atau mengundang trauma. Sebab penerus bangsa ini memang harus bangkit meneruskan hidupnya secara positif.“

 

Takpelak, di mata anak-anak, sekolah darurat ini amat berkesan. Iqbal (kelas V MIN Teladan Lamteumen Banda Aceh), mengaku senang dan sangat puas belajar di sana. “Saya suka sekali kak, di sekolah ini saya banyak dapat pelajaran agama dan bahasa Arab,“ katanya.

 

Afrizal (kelas VI MIN Setui), sambil tertawa-tawa mengatakan senang sekali lantaran sekolah ini ada bagi-bagi hadiah. “Kemarin (Selasa-red) kami dapat susu. Kemarinnya lagi kami dapat sabun, sikat gigi, Hari ini (kemarin-red) kami dapat buku gambar. Besok waktu mulai belajar jam sembilan, ada pelajaran menggambar bebas,“ urai Afrizal dengan semangat kendati wajahnya berpeluh karena baru keluar dari tenda, usai menjawab salah satu pertanyaan sebagai rutinitas menjelang tutup belajar setiap pukul 11.30 Wib. Menurut salah seorang ustaz apapun pemberian bukanlah upah, semata-mata hanya men-support anak, sekaligus memancing kegembiraan sesuai dengan dunianya. “Tim FUUISS pun tak hendak merenggut anak-anak dari keluarganya yang masih tinggal, toh setelah belajar mereka kembali ke tenda masing-masing. Tidak ada istilah adopsi,“ kata Ustaz Zakaria.

(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s