CUT KAK TAMIANG, CUT BANG SIMEULUE

SERAMBI INDONESIA

19/08/2004 00:46 WIB

 

MANAKALA Nanda muncul di lantai peraga, hampir semua penonton di gedung Dayan Dawood memberi applause, bahkan tidak hanya bertepuk tangan, tapi juga riuh memberi apresiasi lewat suara.

 

Pasalnya, siswa SMK I Langsa ini memang tercuat sekali inner beauty-nya. Lebih cantik dari kecantikan lahiriahnya sendiri. Wajahnya berbinar tajam, terlebih dengan tata panggung yang sejuk dari warna pink. “Waduh, alamat menang ini anak,“ gumam seorang penonton yang duduk di baris depan, persis di kanan Serambi.

 

Benar, ternyata Nanda ––wakil dari Tamiang ini–– keluar sebagai juara Cut Kak NAD 2004 yang diselenggarakan sepaket dengan PKA IV itu. Lucunya, ketika dewan juri mengumumkan nama-nama juara, Nanda bergeming. Dia yang tidak cukup camera face ini kurang percaya kalau dirinya terpilih sebagai Cut Kak. Perempuan mata cenderung bundar ini juga tak setitik pun meneteskan air mata harunya. Begitu juga ketika Putri Indonesia (Favorit) 2004, Andina Agustina, menyemat selempang tanda juara. Hanya senyumnya terus menebar seperti memberi aroma kesejukan dan keceriaan. Sama seperti waktu dia tampil pertama ke hadapan penonton, tak ada beban, bukan senyum buatan.

 

Yang jelas, prestasinya ini benar-benar kejutan bagi dirinya. “Iya, saya gak nyangka menang. Soalnya finalis yang lain pinter-pinter semua,“ ungkapnya. Berbincang hampir lima menit dengan Serambi, Nanda “mencurigai“ kemenangannya ini mungkin lantaran dia cukup fasih berbahasa Inggris. Lagi pula ia mampu mengatasi kegugupannya di pentas, padahal di belakang panggung gadis kuning langsat ini gemetar bukan main, hampir-hampir runtuh semangatnya. “Tapi secepatnya saya harus percaya diri, saya harus bersemangat demi nama daerah. Saya harus bisa,“ katanya dalam setengah derai tawa. Kendati mendapat bimbingan kilat dari panitia, agaknya Nanda memang boleh juga nada bicaranya. Tegas tapi lembut.

 

Apa pula yang terjadi dengan Cut Bang NAD? Ini lebih “parah“ lagi. Pria usia 25 tahun dari Simeulue ini bahkan merasa aneh berjalan di lantai praga. “Saya gugup sekali sebenarnya. Tapi saya tenang-tenangkan diri juga. Kalau disuruh melenggok-lenggok saya gugup sekali, saya malu sebenarnya. Bayangkan, saya itu berjalan di depan mahasiswa sendiri. Jadi ndak enak perasaan saya. Saya jalan tadi tidak melalui latihan sebelumnya. Saya buat-buat sendiri saja. Ini spektakuler buat saya. Tapi jangan salah, itu bukan beban berat bagi saya dan semua ini saya kerjakan demi Simeulu,“ Ungkap Hendra Heriansyah yang Dosen Bahasa Inggris di Unsyiah dan penyuka lagu-lagu tenang, terutama milik Pance Pondaag.

 

Kalau ditanya kira-kira apa kelebihannya dari peserta lain, Hendra menjawab tidak tahu. Tapi guru yang lumayan sering juara pidato ini mereka-reka kalau dirinya mungkin menang dari segi menjawab pertanyaan juri. “Ketika saya ikut ujian kemarin (16/8 red), saya cukup optimis, semua pertanyaan bisa saya jawab. Hanya satu yang tidak saya jawab yaitu nama-nama bulan dalam bahasa Aceh. Saya kan dari Simeulue yang gabungan Melayu dan Minang, jadi gimanalah. Tapi di luar tes, saya belajar dan saya bisa tahu sekarang nama-nama bulan itu,“ ungkap pria yang tampilannya bagai remaja 17-an (mungkin karena berperawakan kecil).

 

Untuk ke depan, sesuai tugasnya setelah menjadi Cut Bang NAD, Pak guru ini berhasrat sekali mempromosikan budaya NAD, terutama keluar negeri. Tak lain untuk membuka mata luar bahwa Aceh itu tidak buruk seperti yang dibayangkan. Yang jelas baik Cut Bang dan Cut Kak NAD 2004 ini, sangat bersukur manjadi yang nomor satu. Sebab bukan saja karena nantinya dipercayakan untuk mempromosikan Aceh “kemana-mana“. Bagi mereka ini sebuah ajang yang memberikan pengetahuan lebih dari sekadar lenggang-lenggok. Ada pengamalam ilmiahnya, ada persahabatan, sebuah wahana yang membuat orang lebih dewasa dan percaya diri.

 

Yang menyusul

Menyusul Nanda dan Hendra Heriansyah Juara II hingga Harapan III Cut Kak NAD berturut-turut: Irda Aryani (Bireuen), Junliana Puspita (Aceh Utara), Fitri Juana (Kota Langsa), Fira Purnamasari (Simeulue), dan Cut Hasrina utusan Kabupaten Pidie. Juara II hingga Harapan III Cut Bang NAD 2004: Dedi (Aceh Jaya), Faisal (Kota Langsa), Muhammad Tasrif (Aceh Tamiang), Derry Iswanda (Aceh Timur), dan Mulyadi utusan Kodya Sabang.

 

Menurut Ketua Lomba, Hj Yusriah, seharusnya ajang ini menampilkan 21 pasang Cut Bang Cut Kak, namun tiga pasang peserta tak dapat hadir karena kendala teknis. Menyelingi acara lomba, kemarin juga ditampilkan peragaan busana muslim dari 19 kabupaten/kota, yang sifatnya nonkompetisi. Tampil juga puluhan peragawati dan peragawan dari Yayasan Pembinaan Seni dan Mode Banda Aceh.

(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s