AGUS YANG “GELISAH” BERAKSI DI ACEH

SERAMBI INDONESIA

03/06/2007 15:11 WIB

SUATU kali pada tahun 1992, di Pendapa Gubernur Aceh, seorang pemuda berusia 23 tahun tampil bersama almarhum Tgk Adnan PMTOH, sang trubadur (seniman tutur/pelantuk sanjak) Aceh, dalam lakon Anak Mak Mencari Telur. Masih ingat? Dialah Agus Nuramal (38). Luar biasa! Itu, kesan Agus, si putra Sabang, ketika ditanya bagaimana perasaannya kala itu.

 

Kalau dulu luar biasa, lalu bagaimana perasaan lelaki kelahiran Agustus 1969 ini sekarang? Tidak enak dan tidak nyaman, menurut dia. Kalau berekspresi di Aceh, aku tidak tahu tema apa yang mau kita ceritain. Ia mengaku sudah mengadakan pertunjukan puluhan kali di Banda Aceh. Sejak tsunami, ia sudah keliling di 40 kampung setahun yang lalu.

 

Minggu lalu pun, dia main di Kembang Tanjong, Pidie. Tapi, menurut Agus, penampilan itu tidak berkesan buat dirinya. Entahlah. Aku tidak pernah menemukan cerita apa yang pas buat Aceh. Ini bukan dari segi penonton atau soal keamanan, ungkap Agus dengan raut serius, kendati samar dengan asap rokoknya.

 

Menurut sosok berperawakan kecil ini, sebenarnya banyak materi cerita tentang Aceh yang layak diceritakan. Tapi Agus selalu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah masih cocok pertunjukannya mengetengahkan cerita-cerita itu? Diakuinya, dia banyak punya cerita Aceh, tapi pada menit-menit sebelum dia memainkannya, dia lalu memutuskan jangan yang itu. Apa kita masih cocok menceritakan lagi masa lalu yang penuh tragedi? begitu suara batinnya. Sekarang bagaimana caranya dia bisa mentas dalam format cerita yang jangan lagi menimbulkan persoalan. Tema-tema tragedi, hak asasi manusia, segala macam yang sulit-sulit sudah selesai lima tahun kemarin.

 

Kendati begitu Agus terus berusaha melahirkan gejolak hatinya itu. Tentu ada kesulitan, rupanya Agus hingga kini belum menemukan cerita yang pas dengan suasana Aceh terkini. Sesungguhnya diam-diam Agus ingin menyodorkan konsep tema Aceh baru. Tapi itu masih tetap menjadi sebuah pikiran dalam kepalanya saja. Artinya dia memang mendapat term Aceh baru. Namun, Aceh baru itu, Aceh yang bagaimana? Nah itu yang sedang aku renungkan terus-menerus. Sembari mencoba memperandingkannya dengan dunia luar. Kenapa tidak mengambil tema yang mikro saja? Sekarang aku balik bertanya.

 

Apa tema mikro yang cocok di Aceh? Nah, di satu sisi kita sudah merasa senang akan perdamaian ini. Tapi bacalah di koran-koran. Beritanya, korupsilah, orang ditangkap WH-lah, WH ditangkap oranglah. Kita ini sudah di zaman damai. Seharusnya koran memberitakan berita-berita yang lain. Rakyat tidak mendapatkan sebuah berita yang menyegarkan hatinya, menyegarkan pikirannya. Itulah yang mengganggu.

 

Aku pikir, ini contoh ya, koran itu siarkanlah berita tentang bagaimana kehidupan masyarakat Jepang membangun keseniannya. Itu kan informasi yang baru buat masyarakat. Jadi, mencerdaskan sifatnya. Atau, misalnya, soal transportasi di Kuba, di mana mobil-mobil umum disediakan oleh pemerintah. Bukan masyarakatnya yang membanting tulang beli kendaraan, kredit sepeda motor, kerdit mobil. Maka akhirnya masyarakatnya cari duit banting tulang. Risikonya, di tengah jalan tidak manusiawi semua, keluh Agus, seolah ia ingin mengatakan kejahatan seperti korupsi bisa muncul lantaran rakyat miskin, selain karena keserakahan.

 

Agus pun memaparkan bagaimana dia berusaha menciptakan atmosfer damai dan dimensi sabar bagi korban tsunami di masa awal-awal musibah dahsyat itu. Sebab, ketika itu Agus mengendus ada sesuatu yang berbahaya yang bakal mencuat ke permukaan. Tak lain akibat janji yang ditaburkan pihak pemberi bala bantuan. Prasangka buruk pun muncul ke permukaan.

 

Mana dan mana itu bantuan? Pertanyaan- pertanyaan seperti ini, gawat menurut Agus. Masyarakat bisa hancur dengan janji. Begitulah, Agus coba berbuat sesuatu dengan turun ke kampung-kampung bersama pelawak Udin Pelor. Saya katakan pada masyarakat. Eh, tak usah dipikirin itu janji. Alangkah bodohnya kita sebagai manusia penunggu janji. Lalu kebun tak dikerjain, semua tak dikerjain. Yang ada hanya menunggu janji.

 

Waktu itu memang ada kepuasan tertentu di batin Agus. Artinya, sebagai seniman dia juga berkesempatan berbuat untuk rakyat, kendati tidak membantu dengan rupiah. Itu sebabnya jebolan Institut Kesenian Jakarta ini dengan program TV Eng Ong-nya sengaja keliling Aceh. Misinya, membuat hiburan ke kampung-kampung. Sederhana saja. Membuat panggung kecil-kecilan semampu orang kampung, lalu eksyen. Hasilnya, ada hiburan di antara orang kampung sendiri. Menurut Agus, dengan cara begitu, orang-orang akan jadi segar pikirannya, segar badannya, dan sehat badannya. Pendeknya, jadi kreatiflah dia.

Dengan formulasi 50 persen komedi, sisanya kritik/saran, dakwah, serta pendidikan, Agus sebenarnya ingin bicara banyak di Aceh. Namun, zaman sudah begitu maju ke depan. Secara pribadi Agus sendiri merasa sudah ketinggalan.

 

Begitulah dia sering merasa tak nyaman kalau main (lagi) di Aceh. Dia ingin berbicara, padahal dia pun merasa Aceh bukan tempatnya. Tapi sebaliknya, hati Agus juga berkata, itu juga belum tentu benar. Sebab, ia juga berpikir justru Aceh punya ide-ide baru. Lalu untuk konteks Aceh apa yang ingin dilakukan Agus? Secara diplomatis Agus hanya menjawab, Aceh itu adalah masyarakat yang lain dari masyarakat lainnya. Masyarakat lain tak pernah mengalami seperti yang dialami masyarakat Aceh. Secara permainan lebih gampanglah aku main di luar sebenarnya.

 

Masyarakat Aceh, kata Agus melanjutkan, juga punya karakter sendiri, pengalaman sendiri. Ia menyebutnya sebagai masa transisi. Seniman sendiri sulit mencari ide-ide baru. Tapi dia harus terus bekerja keras. Kalau tidak, tanpa peranan seniman, masa transisi ini tidak akan berjalan mulus. Mula-mula yang ingin kita buat, kita ingin bahwa setiap masyarakat bisa membuat kesadaran kesenian, ya di kampung-kampungnya sendiri, apalagi secara ekonomis dia lebih murah, bebernya panjang lebar. Yang jelas, Agus merasa performance-nya sama juga dengan gaya teman-temannya di Banda Aceh. Dalam arti, posisinya adalah orang-orang yang melihat kenyataan, lalu mengungkapkannya. Bisa dengan mulut, bisa dengan tubuh, bisa dengan benda-benda.

 

Nah, apa yang saya ingin sampaikan adalah bagaimana pun tragedi yang kita maknai kemarin, kini harus kita maknai secara baru. Sebagai seniman kita boleh saja kembali ke belakang, menengok pada teks-teks masa lalu, sejarah-sejarah kerajaan, sejarah-sejarah yang terakhir. Tapi sikap kita kan tidak kembali kepada romantisme. Tidak lagi menangisi, tidak lagi menagisi. Tapi sikap kita apa yang kita lakukan ke depan. Selebihnya Agus ingin mengeluarkan laporan hasil penelitiannya di Komunitas Tikar Pandan (komunitas kebudayaan).

 

Kebiasaannya mendatangi orang-orang kesenian lalu berdiskusi dan menemukan ide, tetap dilakukannya sampai kini. Di Jakarta, di Banda Aceh, atau ke mana pun kaki melangkah, Agus ingin menyelami problem-problem orang. Problemnya itu apa saja? Itu dilakukannya, untuk suatu saat kembali, apakah mereka sudah selesai dengan problem itu? Tak heran Agus bolak-balik Jakarta. Paling tidak sejak tsunami, sedikitnya dua bulan sekali selalu ia datang ke Banda Aceh.

 

Hikayat Aceh

Malam Kamis (30/5) lalu, di Episentrum Ulee Kareng, Banda Aceh, Agus tampil dengan Hikajat Koera-Koera Berjanggoet karya Azhari (pengarang Novel Perempuan Pala). Ini pun termasuk salah satu keinginan Agus juga. Sengaja mencari tempat-tempat baru untuk berkesenian. Sebab, tempat-tempat yang sudah ada, menurutnya, sudah selesai riwayatnya.

 

Bahkan tempat-tempat itu tak mencapai puncak sejarahnya. Keburu rusak gedungnya, kata Agus yang filmnya, Promised Paradise, karya Leonard Retel Helmrich, dicekal Lembaga Sensor Film dan tak boleh diputar di Jiffest 2006. Mana yang lebih mengganggu pikirannya, antara pencekalan itu dibanding kebingungannya mencari tema cerita untuk Aceh, tanah kelahirannya? Sejenak Agus tercenung. Tidak menjawab, bahkan seniman tutur ini justru membeberkan kerja barunya belakangan ini. Sementara aku bersama komunitasku, sedang mengumpulkan hikayat Aceh, ungkap Agus sembari membakar rokok keduanya, dan Serambi pun meninggalkan markas Episentrum Ulee Kareng.

 

Ada yang mengganjal ketika menonton Agus lewat Hikajat Koera-Koera Berjanggoet. Sepanjang pertunjukan yang terdiri atas sembilan sekuel itu, tuturan cerita Agus tersendat-sendat. Apakah itu lantaran kesembilan sekuel memang tak saling berhubungan, kecuali memiliki jaringan kisah, layaknya jaring laba-laba? Atau itukah sebenarnya pantulan kegelisahan Agus saban kali tampil di Aceh?

(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s