DKA BUKAN SUARA MAYORITAS SENIMAN ACEH

harian serambi indonesia :

04/05/2006 11:04 WIB

[ rubrik: Serambi | topik: Politik ]

BANDA ACEH – Menyusul banyaknya pertanyaan soal penolakan Dewan Kesenian Aceh (DKA) terhadap Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP), baik langsung maupun lewat pesan singkat ponsel, Rafly akhirnya sengaja berbicara kepada Serambi, Selasa (2/5), di Taman Budaya Aceh.

Menurut penyanyi kondang Aceh dan pimpinan grup musik Kande tersebut, keikutsertaan DKA di Karnaval Budaya Menolak RUU-APP di Jakarta (22/4), bukanlah keinginan seniman Aceh. “DKA itu bukan suara mayoritas seniman Aceh. Masalah ini harus diluruskan. Saya jadi tak enak dengan teman-teman di Jakarta.

Mereka heran, kok DKA bisa begitu? Kalau aksi T Kamal Sulaiman Cs di Jakarta mengatasnamakan DKA, itu salah. Mungkin itu hanya inisiatif Bang Kamal, Syeh Lah Geunta, grup Geureudam Pasee, dan sejumlah seniman debus. Bukan seniman Aceh. Sebab apapun ceritanya DKA itu kan Dewan Kesenian Aceh, kita ini orang Aceh, lingkungannya bagaimana, adat budayanya bagaimana,” kata Rafly dalam nada tersekan kesal.

Dengan tegas dia mengatakan bahwa tindakan ikut karnaval itu merupakan kejutan bagi seniman Aceh. Di luar dugaan. Menurutnya terserah saja orang mau membuat undang-undang, tapi orang Aceh tidak pernah protes. Ya BBM naik, listrik naik, orang Aceh tidak sibuk. Orang Aceh termasuk senimannya sedang berkonsentrasi mengisi dan mempertahankan perdamaian. Peritiwa dan karnaval itu mungkin bahasa Kamal saja dan hanya bahasa beberapa orang yang sependapat dengannya.

“Saya ingin mengatakan tidak ada Rafly disana, atau Kande di sana. Saya sudah punya reputasi sampai keluar, atau Doel CP Allisah, Said Akram pun begitu, atau seniman kondang lainya. Jadi yang ikut disorot kan kami-kami ini. Ini menjadi rentetan yang panjang nantinya. Statement Kamal membuat kita terluka. Karena seakan-akan kita setuju dengan penolakan RUU-APP, padahal lingkungan Aceh tidak seperti itu. Sekali lagi, DKA itu bukanlah suara semua seniman Aceh.”

T. Kamal Sulaiman, kata Rafly, tidak boleh membawa-bawa nama DKA, mewakili seniman Aceh untuk hal-hal yang sensitif seperti itu. Keputusan DKA yang berskala nasional ini harus melalui keputusan kongres dulu atau musyawarah dengan seluruh seniman Aceh.

Rafly juga sangat menyayangkan statement Kamal di media massa yang menolak RUU-APP seperti yang pernah dimuat Serambi, bahwa DKA tidak sepenuhnya menerima undang-undang itu. Apalagi Kamal turut meramaikan karnaval budaya yang sempat diwarnai dengan aksi buka aurat oleh para waria itu.
“Kalau begini, Kongres Seniman Aceh yang digelar DKA bulan lalu, kan sia-sia jadinya. Kongres seharga 1 miliar, tetapi kok hanya mengeluarkan statement seperti itu. Kongres kemarin kan ada bahasan yang menyangkut syariat Islam,” katanya.

“Dibuatnya Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi itu kan bagus, untuk membenahi apa yang selama ini tidak boleh kita lakukan. Nah datang kita yang perkasa lagi tangguh ini, mengakatan kami tidak setuju, biar saja ada porno. Ini kan sangat kontras dengan kita orang Aceh. Kita ini kan seniman. Yang penting dimana kita bisa berekspresi, berkarya, dan terus berkarya, itu saja.” Tujuannya apa?

Kekecewaan senada juga diungkapkan koreografer tari Aceh, Anton Sabang. Pimpinan sanggar tari Cakramata ini tidak mempersoalkan mendukung atau tidaknya DKA terhadap RUU-APP. “Begini, kalau dia (T. Kamal Sulaiman-red) berbicara tentang sikap penolakan itu, artinya dia minimal harus minta saran dari seniman yang lain untuk berkumpul, apa sih sikap seniman? Ini kan tidak pernah. Sebagai seniman, bukan kami yang menolak RUU-APP.

Itu hanyalah lembaga yang tidak berembuk dengan seniman. Saya melihat ini bukan persoalan menolak atau tidaknya, tapi minimal harus ada kerterbukaaan terhadap sikap Kamal. Untuk apa sih menolak itu? Artinya dia harus bisa menjawab latarbelakang kenapa dia berprinsip seperti itu. Dengan menolak itu apa keuntungannya bagi seniman Aceh?” kata Anton.

Ikut bicara pula seniman musik Yoppy Simeulue yang kebetulan sedang berada di Banda Aceh. Ia juga menyayangkan sikap Kamal. Sejak awal dia tak pernah tahu atau diberi tahu, kalau Kamal atas nama DKA ikut karnaval. Yopy mengatakan tak ada yang perlu dicemaskan ihwal RUU-APP yang sedang digodok tersebut, terlebih bila dihubungkan dengan akar budaya Aceh. “Tampilan seni budaya Aceh justru islami. Orang tahu itu. Jadi RUU-APP tidak bakal mengusik kelestarian adat dan budaya Aceh. Kenapa harus ditolak?”

(nani.hs)


Pos ini dipublikasikan di BERITA NANI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s