SERENADE SENJA

(Cerpen: Nani HS)

Lengking camar masih mesra, panjang, dan halus bagai flute bersahut-sahutan. Iring-iringan kucica pulang ke sarang turut memberi irama nan jingga hampir padam. Pelan dan nyata kesyahduan itu menyusupi hati, membuat perasaannya ikut bergelombang.
Perlahan dia melangkah ke teras belakang yang menghadap taman. Disandarkannya tubuh di badan kursi berkelir gading yang kontras dengan geraian pekat rambutnya. Dihirupnya dalam-dalam aroma mawar yang tertata apik di seputar teras itu. Ah, dia sudah berkali-kali bermalam di villa itu. Sekali lagi dihirupnya wangi dari seputar taman. Ada yang terasa mengusik, bercampur-campur seperti kerdip kunang-kunang yang pernah dipergokinya suatu malam di sekitar situ.
Dia memejam lagi, menghela napas. Dia ingat sekali kalau senjanya pernah bersama Serenade Vantoselli. Tiba-tiba getar aneh meliputinya, bahkan meributi hatinya. Gejolak yang belum pernah dirasakannya seumur hidup dan riuh dan tak terhitung dengan debar ceria masa kanaknya.
Peristiwa itu begitu mendebarkan, mengejutkan, merupakan henyakan dari sebuah mimpi. Ia tak pernah berpikir kalau saja mimpi itu tamat demikian cepat, padahal malam belumlah berganti dini hari. Dia lalu termangu. Wajahnya rona berkali-kali. Dibiarkannya wajah itu terus hangat, sebab ulangan kehangatannya amat mengesankan. Semakin diulang semakin membujuk diri dibakar gairah yang mulai datang dari ubun-ubun.
Mula-mula semuanya ringan saja. Tapi tak lama sekejap itu juga darahnya berdesir-desir. Pelan dan teratur bahkan tak ampun lagi menjalari seluruh permukaan kulitnya yang halus langsat. Rambutnya mulai bermekaran, makin merayapi sekujur tubuhnya yang padat. Tiba-tiba ada yang terasa memburu.
Angin senja dan Serenade Vantoselli dengan halus menyeretnya ke suatu tempat yang belum pernah dikenalnya, melambungkannya ke cakrawala, berlomba dengan nadinya yang bagai hampir pecah ditingkahi deburan di dadanya. Ya, semakin tak mau reda. Dari awang-awang dia merintih dan menggeliat dengan raga tak lentur lagi. Amboi, bertambah bergetar dan bergelora. Gebrakan itu kuat sekali, menyilaukan peluhnya.
Bersama naik turunnya napas dia benar-benar menikmati seporsi keindahan yang entah bagaimana firdausnya. Anggur itu telah direguknya dari pendakian yang paling tinggi dan diteguknya sampai mabuk. Setelah itu betul-betul gelap. Segalanya lepas dan tak bersisa kecuali ada yang meninggalkan letih yang sangat nyata.
Ah, serenade itu memang sangat resap di hati apalagi untuk diselinapkan dalam kepala yang rawan. Gadis itu membalik dengan gelisah. Dia kecut, seperti setiap tarikan napasnya menjelmakan noda. Sebuah keterlanjuran yang tak sabar. Dia menyesal, sangat takut dan mendekap tubuhnya kuat-kuat. Ditatapnya potret laki-laki itu tak habis-habis. Benarkah ini tunanganya dan pilihannya sendiri? Menikah? Ya, itulah sebenarnya yang lebih pantas. Setidaknya, satu kata itu telah melegakan hati dan menumbali kebobolan moralnya.
Senja itu dan senja yang lain, serenade kembali mengulang alunnya. Meskipun tak mencuatkan debar apa-apa tetapi masih menjanjikan harapan. Sayang kegembiraan yang mengandung debaran itu tak bertahan lama. Dicobanya hadirkan sesuatu lagi, yang datang cuma kehampaan. Irama klasik Vantoselli hanya hadir dengan sinis, setelah itu pergi bersama waktu. Rasa tak percaya ia dengan perjalanan waktu. Seandainya ia dapat merangkul lagi kerinduan itu, betapa rekah dadanya. Tapi dia dan laki-laki itu telah terjauh. Ada jarak antara dia dan kenangan dan perantaraan itu telah mematikan segalanya. Terakhir ia tak dapat membayangkan bagaimana bulan perak melayari peraduan laki-laki itu dan sekretarisnya.
Gadis itu berdecak gundah. Bagaimana dengan pengorbanannya? Berdecak lebih gelisah ia. Bukan tak dicobanya menghindar dari pertanyaan laknat itu. Tapi penghindaran itu toh sia-sia. Kenapa pengaruh laki-laki itu begitu kuat? Apakah karena unsur ketenangan dan kewibaannya? Sudah berapa kali ia kalah dan membiarkan laki-laki itu membaca hatinya. Lalu, apakah lantaran laki-laki itu lepasan negeri Paman Sam? Tidak, gadis itu tidak pernah memberatkan pilihan pada materi. Entahlah dia tak tahu apa namanya. Mungkin karena dia sudah terlalu lama melupakan hal-hal semenarik itu.
Dia memejam lagi mata bundarnya dengan lembut, seolah ada sesuatu yang mengelusnya lambat-lambat. Wajah itu hadir lagi. Wajah yang lebih sederhana dari laki-laki tunangannya. Embi. Embilah yang mampu menidurkan segala rasanya. Embi mampu mengubur kelabunya. Untuk membenarkan itu semua, dia memang membutuhkan kejujuran pada dirinya sendiri. Kegembiraan datang juga dalam keheningan dan kembali menghimpun suka di hari-harinya.
Bahagiakah dia? Benarkah fajar baru akan menyingsing dalam hidupnya? Perlukah dia bersekutu dengan siapa-siapa untuk membenarkan kemungkinan tadi? Atau dia memang perlu dan berhak membebaskan diri dari hal-hal yang belum tentu? Atau lagi, lebih baik dirinya, menjadi lebih berguna dari sekadar itu?
Gadis itu tersenyum pahit. Diam-diam dia memang mengakui, Embi
sebenarnya telah menyentak-nyentak tirai hatinya. Rasanya dia hampir setipis kaca belling. Embi dengan gampang tinggal menerobas kaca belling itu bila dia suka. Gadis itu diam saja malam itu. Rasanya lebih tenang berbicara dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia tak menyukai Embi? Laki-laki laksana air mengalir dalam ketenangan, terus-menerus, membuai, dan menggelitik nalurinya. Bunga yang diberikan Embi ternyata betul-betul wangi. Benarkah itu? Betapa cinta saja tak cukup. Bagaimana dengan rentak silamnya yang pahit penuh noda? Sementara hidup tenang adalah cita-citanya yang tak luntur.
Rasa ingin melupakan tunangannya datang seketika dan menjadi keputusannya. Dia mulai bangga melihat Embi yang terus tegar, walau dalam ketidaktentuan rasa. Namun dapatkah hanya dengan kebanggaan itu dia bisa membuat titian antara Embi dan orangtuanya? Memang orangtuanya tak pernah melarang soal cinta putihnya kepada Embi yang beranak enam dan atasannya itu.
Ketika dihantam oleh pertanyaan yang berikhwal dari kesediaannya menjadi ibu dari bocah-bocah yang bukan datang dari rahimnya sendiri, dia mulai galau. Haruskah dia munafik? Wanita macam apakah dia ini? Apakah dia pun harus melupakan semuanya termasuk keluarganya sendiri? Tentu tak benilainya dia.
Gadis itu terisak. Sepuluh jarinya cepat-cepat mengatup muka. Himpunan musik Serenade Vantoselli hampir berketuk pada nada akhir. Senja sedikit lagi hitam. Langkah-langkah lembut dari ruang dalam semakin mendekat, memulangkan kembali terawangannya yang jauh. Lalu diteguknya sisa sedu cepat-cepat. Dia tak mati George Lindanya sempat membaca angan-angannya yang gelap. Dikecupnya anak gadis tanggungnya itu di ubun-ubun. Lalu Ratna menoleh pada Bustam, bekas pasien terakhirnya yang menjadi pilihan orangtuanya. Ya, mengapa tidak? Bukankah Bustam melebihi sekadar laki-laki idaman, mencintainya seadanya? Memang wanita lebih baik dicintai rupanya. Biar Serenade Vantoselli meraung-raung, ia tak kan peduli lagi. Dia ingin sekali senjanya cepat membuang sauh, supaya malam segera dilayarinya sampai berpeluh.

(Banda Aceh, Oktober 1990)

Pos ini dipublikasikan di CERPEN NANI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s