MANDO DAN KEMANJAAN DEK NONG

Serambi Indonesia : cetak artikel

• 04/11/2007 10:08 WIB

[ rubrik: Serambi | topik: Entertainment ]

Mando Gapi menggerutu. Kain sarung bututnya belum kelihatan. Padahal tadi sudah dibungkusnya dengan kresek hitam. “Ho ka jih? Get that meudhuep-dhuep ate lon. Karap gadoh ija krong. Karap reuloh buet (Mana ya, jadi berdebar-bedar saya. Hampir hilang kain sarung. Hampir rusak rencana),” ungkap Mando alias Bang Jono. Lalu, pada setengah tiga siang Senin (29/10), suasana redaksi jadi gerrr. So pastilah “penonton” jadi tertawa. Si Mando Gapi bicara dengan dialek khasnya, seperti di Eumpang Breuh (EB).

Sibuk-sibuk dengan kain sarung yang nyatanya ada di bawah kursinya itu, lantaran Mando mau eksyen untuk dipotret Serambi. “Aleh pakon. Meunyo ka lon sok ija runyoh ngon kupiah brok nyoe, kacamata, sang ka beuhe lon (entah kenapa, kalau sudah pakai jas lusuh dan peci buram ini, rasanya sudah berani saya),” jelas Mando. Benar, kalau disuruh berakting, atau bicara atas nama Mando Gapi, lelaki perjaka yang bernama lahir Sulaiman dan sedang menanti jodoh ini merasa salah tingkah tanpa pakaian “kesayangannya” itu. Dia canggung, begitu pun waktu sampai di pintu Serambi.

Senin lalu, begitu datang, Mando mendahului Kapluk, Yusniar, dan sejumlah kru EB, langsung ke lantai dua News Room Serambi Indonesia. Mando mengamit bocah perempuan kelas empat MIN Banda Masen Lhokseumawe, tanpa kostum EB-nya.

Minus stelan tokoh Mando Gapi, Bang Mando memang nyaris tak kita kenal. Kelahiran 12 Desember 1970 ini jauh lebih muda dari sosok Mando Gapi dalam cerita EB. Begitu pun si bocah, Dek Nong. Dalam EB dia tampak lebih putih. Nyatanya dia cendrung sawo matang. Dek Nong dan Mando jalan berpegangan tangan dan tertawa-tawa bak dua sahabat.

“Bang mando get that akai gobnyan. Tapi na chit geu dhot lon sigo. Geupeugah lon cabak that. Lon jak mengadu bak Haji Uma (Bang Mando orangnya baik sekali. Tapi saya pernah dimarahnya sekali. Katanya saya itu lasak sekali. Saya mengadu pada Haji Uma),” ungkap Dek Nong atau Nanda Safariani ketika ditanya kenapa bisa kompak dengan Bang Mando.

Menurut Nanda, selain Mando Gapi, orang yang baik luar dalam itu (luar dalam EB-Red) adalah Yusniar dan Apa Kapluk. Namun Dek Nong dengan lantangnya membantah waktu Serambi “menuding” bahwa Haji Uma itu orangnya kejam dan tak baik.

“Nyan yang ka salah idroe neuh. Haji Uma nyan get that akai geuh hai. Keu lon, get that sayang geuh. Lon kayem geujok bombon. Haji Uma dalam pilem sagai brok akai geuh. I lua hana. Bang Mando kon… (Itu yang sudah salah. Haji Uma itu baik sekali kelakuannya. Dia sayang sekali pada saya. Saya sering dikasih bombon. Hanya dalam film saja Haji Uma jahat. Di luar tidak. Ya kan Bang Mando).” kata Nanda dengan jalan pikiran anak-anaknya, sembari memegang-megang tangan Mando Gapi dengan manja. Dek Nong pun kerap berbisik dengan Mando jika diledeki. Kalau Mando yang ditanya, Dek Nong juga mengiyakan. Kalau Dek Nong yang ditanya dia selalu minta dukungan Mando seperti layaknya teman. Istilah Nanda, “luar dalam baik” agaknya Mando dan Nanda luar dalam EB juga kompak, kendati perbedaan usia mereka jauh.

Lazimnya anak seusia Nanda tentu grogi bila ditonton dan diselorohi sekian orang di redaksi siang itu. Nanda santai saja. “PD aja lagi…begitu kira-kira.” Sama dengan Dek Nong di EB. Cara bicara dan menangkis setiap candaan mengesankan Nanda bocah yang cerdas. Dalam pertemuan sangat santai dan disaksikan belasan orang, Nanda dengan bangga bercerita pula bahwa produsen roti coklat yang diberikannya untuk Mando Gapi dalam EB IV, telah menghadiahinya sepotong gaun pesta berkembang pink. Kebetulan dikenakannya saat wawancara.

Itulah salah satu kegembiraan ikut syuting di EB bagi Nanda. Tanpa tahu arti karir berakting, Nanda suka jatah rupiahnya. “Yang keuphon dijok lhee reutoh. Lheuh nyan tujoh reutoh. Lheuh nyan dua reutoh sagai. Galak kuh dibi peng. Ka lon bloe bajee, luweu, incien, jeum (yang pertama diberikan tiga ratus. Sudah itu tujuh ratus, sudah itu cuma dua ratus. Saya beli baju, celana, cincin, dan jam).” sebut Nanda dengan air muka sangat cerah. Dia sampai terkekeh mengungkapkan itu. Sepertinya, itulah hal yang sangat berkesan dalam hidupnya.

Tiba-tiba gadis kecil nan manis itu menghadap Mando, lalu mereka berduet mengatakan,” dicelup, diputar. Hai Deknong nakaba kupi. Ooo hana lagoe, ta uet laju.” Lalu mereka tertawa. Lagi-lagi Nanda menolak-nolak bahu Bang Mando lalu menyandarkan kepalanya di situ. Nanda terus bercerita, tak peduli orang-orang mendengar celotehnya itu, dan Mando seyum-senyum saja. Namun, begitu Abdul Hadi (Apa Kapluk atau Bang Joni) datang, Nanda mulai “kendur”. Dia menyembunyikan badan ke tubuh Mando. “Malee kuh na Yah (Malu saya ada ayah),” ungkap Nanda yang anak pertama dua bersaudara itu. Nanda memang tak mirip dengan Kapluk. Namun sifat komedian sang ayah rupanya turun ke Nanda.

Entah kenapa sang sutradara EB, Ayah Do, tak memberi kesempatan Nanda lebih banyak untuk garapannya. Padahal Nanda berpotensi dijadikan tokoh sentral kedua dalam produk komedi seperti EB. Paling tidak, agak sama dengan porsi Mando lah. Sebab dari segi entertaint Nanda sudah punya modal. Berani, cerdas, bertampang, dan sepertinya siap terus berakting, kendati “si kenes” ini mengaku senang berakting lantaran mendapat imbalan rupiah. Biasalah anak-anak.(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s