INILAH AJANG CUT BANG DAN CUT KAK KITA

Serambi Indonesia Cetak Artikel
• 20/08/2004 10:37 WIB

[ rubrik: Serambi | topik: Budaya ]

DIAWALI dengan lafal Salawat Badar, disusul Tari Marhaban, acara Lomba Cut Bang Cut Kak se-Nanggroe Aceh Darussalam (18/8), memang lain daripada lain, dibanding even serupa seumpama pemilihan Abang dan None Jakarta atau Putri Indonesia.

Berada dalam Gedung Dayan Dawood saat itu, ada yang datang mngghampiri. Sebuah dimensi religi, terlebih saat musik tabuhan mengiring alun marhaban yang harmonis dengan gerak heroik 18 penari. Diakui atau tidak, sangat Aceh bagi telinga dan mata orang Aceh.

Juga masih terasa nilai islaminya ketika para calon Cut Bang dan Cut Kak seluruhnya muncul ke pantas. Cut Bang dan Cut Kak tidak jalan berpasang-pasangan. Mereka dalam barisan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Pun ketika mereka harus memperkenalkan diri sesuai utusan kabupaten/kota, setiap pasangan tetap menjaga jarak. Ini sesuatu yang positif, yang patut dijaga kalau masih ada pemilihan Cut Bang dan Cut Kak di masa datang, sebab sejak semula kehadiran ajang ini sangat kontroversial dan cukup alot diperjuangkan.

Bukankah seperti kata Ketua VI PKA 2004, bahwa lebih bijaksana bila mencari solusi terbaik yang sesuai dengan pelaksanaan syariat Islam? “Bagaimana caranya kita mencari anak muda yang pantas diidolakan, namun sesuai dengan syariat Islam secara kaffah hingga menjadi suri tauladan bagi generasi sebayanya, bukan menjadi pengekor budaya luar,” sebut perempuan nomor satu di Aceh itu.

Tapi bagaimanapun juga ajang pertama kali dilaksanakan NAD ini bergulir juga, kendati kelihatannya masih “compang-camping” baik dari segi kesiapan panitia maupun kesiapan peserta.

Anda yang barangkali ikut menonton, tentu sedih bila menyimak seorang peserta tak tahu nama istri bupatinya. Ada juga yang tak tahu nama kue khas daerahnya, atau yang hanya mengetahui bahwa syariat Islam itu tak lain mengharuskan seorang perempuan mengenakan jilbab, atau ada juga yang melafal alfatihah bagai seorang santri TPA, bisa dibilang tak sampai pada batas standar. Benarkah selugu itu atau ada hal lain yang lebih parah?

“Dari penampilan mereka di babak final, sebenarnya ada beberapa peserta Cut Kak Cut Bang sudah bagus. Modal sudah ada, seperti postur tubuh. Hanya saja mungkin cara jalannya di pentas yang lebih diperbagus. Lalu rata-rata dari mereka memang tampak nerves. Menurut saya mereka mungkin perlu diasah lagi,” sebut Putri Indonesia Favorit, Andina Agustina.

Bagaimana kalau kita duga mereka pada dasarnya tak cukup pengetahuan umum? “Benar itu,” sebut Dra Dahliati salah seorang juri bidang Kepribadian dan Etika.

Guru pelajaran Etika dan Kepribadian di SMK 3 Banda Aceh tersebut mengakui kehadiran “Cut Bang Cut Kak” sejak awal memang banyak kekurangnya. Idiealnya mereka itu dikarantina. Selama karantina akan diketahui bagaimana kemampuan mereka beradaptasi. Lalu akan diketahui pula dari segi EQ dan SQ (istilah psikologi), brain image (kecakapan/pengetahuan), beauty (kecantikan), behavior (kebiasaan hidup dan berlingkungan) yang dimiliki sang calon. Memang seharusnya mereka melakukan aktivitas bersama selama dikarantina termasuk bertatakrama, dan seterusnya.

“Sah-sah saja calon Cut Bang Cut Kak kita masih lugu sekali. Mereka toh tidak melalui prosedur yang semestinya. Siapa mau ikut ya ikut saja tanpa bekal. Jangan heran mereka tidak siap dari banyak hal. Dahliati juga merasakan kekurangan dari segi persiapan panitia.

Benar, even sebesar PKA mana mungkin bisa kekurangan mig. Sampai-sampai salah seorang kru Cut Bang Cut Kak harus berlari-lari menyerahkan mig untuk mereka yang perlu bicara. Pantas saja kalau penonton sedikit-sedikit bersorak sinis.

Tapi inilah serunya, membuat suasana tidak melempem. Membuat kita “berkaca”. Kita harus belajar dari yang kecil-kecil, dari yang sederhana dulu, dan tidak gara-gara “kerikil” tadi lalu berhenti berbuat.

Dan dewan juri yang terdiri dari Dra Raihan Putri MPd (bidang agama), Dra Dahliati (Etika dan Kepribadian), Dahlia Spsi (bidang psikologi dan bahasa Inggris), Drs Asli Kusuma (untuk wawancara bidang kebudayaan), dengan bekerja tiga hari lamanya akhirnya menemukan Cut Bang Cut Kak Nad 2004. Nanda dan Hendra Heriansyah. Menurut kerja keras mereka, itulah yang terbaik. Ironisnya, dari matanan Serambi tak sedikit pembaca yang berkomentar, “Kok Cut Bangnya tak sepadan dengan sang Cut Kak? Itu namanya Cut Kak dan Cut Adek.”

Kita mengerti itu. Sebab di kepala orang awam yang namanya ajang pemilihan ragam ratu-raja, abang-none, dan seterusnya, yang terbayang duluan adalah cantik dan gantengnya atau setidaknya yang laki-laki lebih kekar. Sekali lagi bisa dimaklumi.(nani hs)

Pos ini dipublikasikan di TULISAN LEPAS. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s