BAPAK

(Cerpen : Nani HS)

“Segera pulang hari ini juga. Penting.” Werr, dadaku. Dada suamiku. dada kami semua. Kabar kabur lewat telegram yang menukikkan sakit ke ubun, merapuhkan ketegaran. Lebih perih dari mendengar kabar sebenarnya kendati berbau duka.
Apa maunya? Berita kok asal jadi. Memang kami punya seribu jantung yang boleh dipacu
semena-mena? Atau tak punya iman bila mendengar, taqdir yang sebenarnya? Bukan disodori ketakutan dan kecemasan begini. Ini bukan lelucon atau kejutan.
Ada apa di kampung? Bapak barangkali? Bapak sakit parah? Tapi kabar tiga hari lalu bapak masih bugar-bugar saja. Malah bapak mengirim asam jawa kesayanganku, tak lupa sebakul salam kasihnya melalui tetanggaku.
Bayangan ketuaannya langsung saja berkelebat dalam benakku. Apakah sekarang bapak harus menjalani fungsi akhir raga tipisnya? Tak, lebih sebagai onggok kenangan buat anak cucu?
Ah tidak. Ketuaan bukan ukuran kematian yang segera. Kematian boleh datang kapanpun, bila masanya. Namun ketuan bapak memang menggundahkanku sejak lama. Kerena ketuaan itu pula aku tak sampai hati mengurut betisnya yang nyaris tak berdaging, kepalanya, keningnya saat diopname bulan lalu. Waktu itu antara prihatin dan kerelaanku bertumbukan kacau. Kesanku memang beda dengan apa yang dirasakan bapak. Rasaku gebalau, rasa bapak yang kemillau.
Bukan main, di belakangku dia sempat memuji aku sebagai menantu satu-satunya yang tahu diri. Selalu hormat meski berhadapan, dengan kekumuhnya dalam sakit. Anaknya yang lebih setengah lusin pun tak becus mengurusinya. Ya jijik, malas plus ngomel capek.
Tapi bukan lantaran pujian itu aku jatuh sayang pada sang mertua. Tak bisa kujelaskan bagaimana akurnya hubungan batin kami. Mau tak mau ada kekosongan yang saling terisi. Aku tahu, itu bukan cinta, Mungkin kami sama bermasalah. Yang satu kehilangan pamor di tengah-tengah keluarga. Sedang aku babak belur dengan persoalanku yang butuh seseorang selain suamiku.
Oh bapak, ada apa? Penyakit darah manismu kambuh lagi? Itulah, engkau tak bisa lepas dengan kopimu. Tak perduli walau sedang kehabisan sakarinmu. Bagaimana dengan hypertensimu bapak? Aduh sumpah mati aku sayang mertuaku itu. Akulah yang masih bisa memaklumi kebiasaannya yang nyaris kembali ke tabiat anak-anak. Dengan aku pula yang bernama Syamaun Nyak Syeh itu mau bercerita soal kaki cideranya gara-gara wabah penyakit kulit waktu perang Cumbok.
Lalu dia terkekeh mengulang soal kuntilanak yang pernah mengganggunya ketika masih menjabat mantri kepala di sebuah rumah sakit kabupaten. “Jangankan kuntilanak, bapak pernah tidur dengan mayat. Habis, tidur di zal berisik sih, bapak tak pulas,” mertuaku tambah terkekeh sampai seluruh gigi palsunya jelas berjajar.
Lantas laki-laki itu mengulang lagi kisah suamiku yang diperlakukan sebagai bos kecil oleh para bawahannya. Lalu bagaimana suamiku minta sambal terasi padahal sedang diwabahi muntah berak. Tidak, masih manyak anekdot yang belum kudengar. Benarkah mudikku bulan lalu bulannya perpisahan?
Ya Tuhan, lepas Magrib tadi iparku yang anak perempuan kesayangannya begitu gelisah kendati ibu beranak tiga itu paling gengsi dengan kececengengan. Aku juga melihat geliat gelisah di wajah itu. Dia pun sempat mengira kalau-kalau telegram itu adalah kabar bapak.
Suamiku yang arif memadamkan kesuhahanku. Berpeluh juga wajahnya. Hilang kata-katanya. Mungkin tak saja mempersoalkan bakal kehilangan orangtua. Bagaimana dengan ongkos berangkat atau masalahku yang pemabuk darat dan selalu butuh ini itu sebagai penangkal?
Bagiaman pun kami memang harus pulang. Ini masalah kasih saying, kesetiaan, kemanusian, bahkan esok lusa mungkin merambat jadi penyesalan.
Tidak. Bapak tidak akan meninggalkan kami sekarang. Semoga belum terlambat. Bapak masih diperlukan. Bapak belum boleh berhenti bernostalgia, menerawangi simbol masa lalu yang menggairahkan. Sungguh laki-laki loyal plus tak banyak bicara yang disegani warga sekampung.
“Cepatlah!” Bentak suamiku.
“Sebentar Bang. Yasin dan mukenaku ketinggalan.” kataku sabar.
“Memangnya barang langka, di kampung kan ada?” Bentakan itu lebih kuat.
“Bukan begitu, barang kecil kan diurus sendiri. Kalau rumah sedang ramai mencari bantal pun sulit kok,” jawabanku begitu saja mengalir.
Entah dari mana, firasat burukku tentang bapak tak bisa ditawar lagi.
Benar, lututku semakin bergetar juga sesaat di rumah Ibrahim. Tempat kami anak dan menantu berkumpul untuk berangkat bersama. Tak tahu pertanda apa tapi ipar perempuanku yang membawa kabar dari rumah ke rumahpun sekarang digilir celaka pula. Gawat darurat kondisinya. Sibuk-sibuk lalulintas magrib mengaparkannya tak sadar diri. Nyatanya kami bukan saja sedang jatuh, kiranya tangga membuat susah berdiri.
“Bagaimana Din,” tanyaku pada kemanakan yang datang dari rumah sakit.
“Cek Miswani belum sadar. Malah masih ngomong soal bapak. Tadi waktu di dalam becak sebenarnya Cek Mis bilang kakek sudah meninggal. ”
“Hah? Din, kakek meninggal?” Setelah sekali terjerit mendengar kabar itu aku pingsan rupanya. Aku baru menangis lagi ketika tersengat bau aude cologne.
lronisnya ketegaran ragaku malah membaik dalam perjalanan seratus kilometer ke kampungku. Seperti juga lima kemanakanku tak saling rewel. Atau barangkali para bocah sama tercekam seperti enam kami orangtuanya. Benar atau tidak yang masih terdengar deru bus jarak jauh, berbaur dengan semayup angin gunung, basah mataku, dan bisu suamiku.
Kegelisahan bagai tak berujung. Mengalir juga ke tangan suamiku yang tanpa lelah mengurut dahi, jemariku yang mengkaku ngilu oleh mual yang datang juga. Membuat jarak kampung bagai berlipat ganda. Bahkan ketika kami sudah berada di becak. Hanya derit tiga rodanya dan udara menjelang subuh saja yang bicara. Itupun seperti mengganggu dan menggidikkan bulu roma. Belum lagi berada di lorong-lorong berlampu redup, bersemak pohon dalam deret perumahan yang tak elok.
Persis pukul lima dini hari becakku sampai di gerbang rumah kami. Kulihat lampu teras tak berneon lagi dan berganti pijar sepuluh watt. Sedaun jendela dan pintu pun tak terkuak. Seram kurasa. Bagaimana mungkin rumah kami sesunyi itu. Apalagi dalam cuaca kemalangan. Kenduri kecil-kecilan yang merebahkan satu ayam saja pun tak tampak. Bagaimana mungkin sunyi? Rumah tua kami seharusnya bertamu lumayan.
Aku terpana di ujung halaman. Betapapun sejak tadi seperti ingin terbang. Berat juga langkahku sekarang. Terus terang aku terkadang penakut. Becak lainnya masih puluhan meter di belakangku.
Lalu berbilang menit becak itu menyusul satu-satu. Ada semacam rasa kelu dan entah apa namanya ketika kami semua sesaat terpacak di halaman. Suamiku lalu berada di depan dengan dua kali ketukan di pintu. Tiba-tiba ada yang mengaroma di hidungku. Harum melati di halaman terlalu tajam. Bertambah datang pula kepengecutanku. Sekaligus saja aku ingin berada di tengah. Berkurang rasanya takutku bila tak ke muka dan tak ke ke belakang.
“Mak,” sergahku. Aku menyalami ibu mertua ku sebagaimana adatku. Seperti biasa masih ada peluk cium. Kali ini mamak tak menangis lagi. Namun jelas garis mukanya keras dan kelu.
“Bapak?”
“Ada,” sahut mamak langsung mengamit lengan suamiku diekori dua saudara iparku, yang lain menuju tempat tersudut dan tersuram di rumah kami. Kudengar mamak sedikit berbisik. Kami yang menantu perempuan cukup terpojok di sudut lain. Antara tertanya-tanya dan sungkan bicara.
“Macam-macam saja!” Suara suamiku tak sebiasanya. “Jangan beginilah caranya,” kulihat tinju suamiku kian membulat.
“Saya sampai tak minta izin di kantor. Itu Si Miswani pinggangnya patah. Muka anaknya tergores batu. Mestinya kami yang laki-laki kan yang menerima berita? Huh kasak kusuk tak menentu,” balas Ibrahim adik suamiku nyaris memecahkan Subuh. Ibu mertuaku terkesima, ” hilang keahlian berkilahnya. Surat dari Kuakec di tangan suamiku diraihnya kembali.
“Dimana bapak Mak?” Ulangku. Tak menunggu jawaban kucoba saja menuju kamar bapak. Di sana, bapak terbujur. Gemuruh dadaku. Tak kupungkiri, selain gemetar, takut juga aku. Pelan-pelan aku mendekat. Dahi bapak memang dingin. Tapi bapak tidak terbujur kaku. Ya Ampun bapak tidak meninggal. Ah masih ada denyut di dada lelaki tua itu rupanya. Bahkan nafasnya keluar teratur sedikit mengorok pula. Kupegang dahinya sekalu lagi, kuselimuti dia.
“Bacalah ini.” kudengar suara ibu mertuaku. Cermat-cermat kuamati surat secarik yang jadi sumber debaran. Surat itu dari KUA dalam rangka pengurusan perceraian. Bapak mau bercerai?
Jadi betul seperti cerita lelaki itu padaku tentang kecemburuannya pada mamak yang ditudingnya main serong? Apa betul bapak sangat tertekan dengan omelan mamak selama ini? Oh bapak. Memang sudah tua engkau sekarang. Inikah isyarat awal keuzuran? Entahlah, aku hanya terhenyak. Tak ada lagi rasa humorku dini hari itu. Esok pagi mungkin saja aku terpingkal sepuasnya atau jengkel memaki si pengirim telegram yang tak pakai pikiran.

(Banda Aceh. Juni 1993)

Pos ini dipublikasikan di CERPEN NANI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s