BERMULA DI GEURUTEE

musismail.com / 19/01/2013

 Bermula di geurutee

 

 

Oleh: Mustafa Ismail |

Tulisan ini pengantar editor kumpulan cerpen “Bayang Bulan di Pucuk Manggrove” yang diterbitkan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) pada 2006 | Saya posting di sini karena ada hal-hal yang, menurut saya, bisa mengingatkan — terutama saya sendiri — bagaimana melahirkan cerpen yang baik

Kisah bermula pada siang. Matahari tak lagi di atas kepala, tapi sudah condong ke barat. Mobil meluncur cepat dari Lamno, Aceh Barat Daya, ke arah Banda Aceh – dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Saya memburu waktu siang itu untuk sampai di bandara Sultan Iskandar Muda pukul 17.00. Saya harus kembali ke Jakarta, setelah mengikuti sebuah kerja sastra di Lamno, sastrawan masuk sekolah, yang diadakan oleh Lapena.
Saya sudah beberapa hari di Aceh, kala itu. Sebelum di Lamno, saya telah mengikuti kegiatan serupa di daerah Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Dan dalam perjalanan pulang itu, saya ngobrol banyak hal dengan Zoelfikar Sawang, pembaca puisi handal, yang memegang kemudi. Rupanya ia tidak hanya trampil membaca puisi, juga lihai meliuk-liukkan mobil di jalan berkelak-kelok di pegunungan Geurutee.
Salah satu yang kami bicarakan adalah soal kegiatan Dewan Kesenian Banda Aceh yang dipimpin Zoel, begitu ia biasa kami panggil. Dari pembicaraan itu, saya mengusulkan bagaimana kalau DKB menerbitkan buku kumpulan cerpen. Pertimbangan saya sederhana, penulis cerpen dari Aceh belum banyak dikenal di luar Aceh. Saya berharap buku itu bisa menjadi “salam silaturahmi” cerpenis Aceh kepada dunia luar.
Rupanya Zoel, yang juga wakil rakyat di DPRD Kota Banda Aceh itu, antusias. “Oke,” katanya. “Ci kumpulkan laju,” ia meminta saya untuk mengumpulkan cerpen-cerpen itu. “Menyoe jeut ta luncurkan buleuen Desember,” ia melanjutkan. Maksudnya, jika bisa buku itu diluncurkan pada Desember 2006. “Jeut,” kata saya. Bisa, tak masalah.
Pembicaran soal antologi cerpen itu berlangsung hingga kami sampai di bandara. Di salah satu meja di cafetaria bandara, sambil melegakan tenggorokan dengan minuman ringan, kami mulai mencoret-coret siapa saja yang bakal ikut dalam kumpulan ini.
Ia menganjurkan agar soal ini dibicarakan juga dengan Saiful Bahri, yang baru menerbitkan novel keduanya, Hikayat Sang Gila. Saya mengontak Saiful, yang sekretaris DKB itu, dan rupanya antusias pula. Klop. Berarti rencana itu sudah setengah jadi. Di ujung pertemuan dengan Zoel sore itu, ia berkata kira-kira begini: “Semoga peue yang tanyoe reuncanakan terwujud.” Semoga apa yang kita rencanakan terwujud.
Kami berjabat tangan. Ia kembali ke mobil. Saya mengantarnya sampai di bibir teras bandara. Lalu, saya kembali masuk ke ruang tunggu menunggu pesawat yang akan membawa saya kembali ke Jakarta, yang rupanya terlambat lebih satu jam. Matahari sudah rebah di barat. Warna merah menyapu sekelilingnya. Sebentar lagi senja akan tiba.
* * *
Sebetulnya, tak hanya buku kumpulan cerpen yang kami rencanakan, juga antologi puisi. Rencana itu bertolak dari sebuah acara yang diadakan dewan kesenian kota itu: Lomba Baca Puisi Piala Maja. Biasanya, puisi-puisi yang akan dipilih dan dibacakan peserta lomba dibikin dalam sebuah buklet sederhana. “Nah, sekarang puisi-puisi itu kita bikin dalam bentuk buku yang bagus,” kata saya.
Zoel juga sepakat. “Jeut nyan,” kata dia.
Argumen saya juga sederhana. Selain untuk kepentingan lomba, buku antologi itu bisa dilempar ke pasar, dijual. Jadi, masa hidup puisi-puisi itu lebih panjang, tidak hanya seumur acara itu. Ia bisa menjadi buku yang menemuni rak-rak toko buku, perpustakaan, maupun menjadi koleksi para penyair dan penikmat puisi. Puisi-puisi yang masuk dalam buku itu sedapat mungkin adalah puisi-puisi terbaru para penyair.
Tapi rupanya memang tidak mudah mengejar dua hal dalam waktu yang sangat singkat itu. Akhirnya, yang jalan duluan adalah kumpulan cerpen. Tiba di Jakarta, saya mulai mencoret-coret anggaran dan nama-nama penulis cerpen yang bakal ikut dalam antologi itu. Lalu, nama-nama itu saya kontak, ada yang lewat telepon, maupun lewat yahoo messenger.
Tak lama, sejumlah cerpen terkumpulkan. Para cerpenis mengirim dua sampai tiga cerpen perorang. Di luar yang dikirim, ada pula yang saya ambil dari cerpen yang pernah dipublikasikan di koran. Setelah semuanya terkumpul, saya pun mulai bekerja: menyeleksi cerpen-cerpen yang bisa masuk ke buku itu. Awalnya, saya memasang kriteria yang ketat dalam menyaring.
Tema boleh bebas, tapi cerpen-cerpen yang masuk buku itu mestilah cerpen yang kuat, ya kuat dalam ide cerita, orisinil, konflik-konflik, suspense, penokohan, kebaruan, sampai ending cerita. Tapi rupanya memang sulit mendapatkan cerpen-cerpen dengan kriteria yang saya pakai. Jika saya paksakan kriteria itu, saya hanya mendapat beberapa cerpen saja.
Ada banyak soal yang melingkupi cerpen-cerpen yang masuk. Misalnya, ada cerpen dengan ide yang cukup orisinil, atau dengan kata lain idenya cukup baru, tapi lemah dalam logika. Hubungan sebab-akibat tidak kuat. Sehingga peristiwa itu muncul sekonyong-konyong, tiba-tiba, kebetulan, dan tidak dapat dijelaskan mengapa peristiwa itu muncul. Padahal, cerita tidak terpisah dari logika. Kausalitasnya mestilah jelas.
Seorang penulis cerpen kawakan, Mohammad Diponegoro, dalam buku Yuk Nulis Cerpen Yuk mengatakan dalam cerita fiksi tidak ada hal yang terjadi kebetulan. Kalau toh ada, hal kebetulan itu akibat dari peristiwa sebelumnya. “Jadi bukan hal yang berdiri sendiri tanpa sebab atau mendadak turun dari langit yang kosong,” katanya. Dengan kata lain, kebetulan harus ada alasan, dan alasan itu perlu diketahui pembaca.
Alhasil, cerpen dengan ide cukup menarik itu terpaksa saya sisihkan dari kerumunan. Ada pula cerpen dengan fakta-fakta yang keliru. Misalnya, dalam sebuah cerpen yang bercerita tentang pengungsi, penulis menggambarkan bahwa salah seorang pengungsi terkena penyakit tipus. “Kamu pasitif tipes!” kata orang yang memerika layaknya dokter di pengungian itu. Uniknya, yang diperiksa untuk memastikan tipus itu hanya menyenter kornea dan mulut.
Penulis cerpen ini lupa, untuk memastikan sebuah penyakit, misalnya tipus, tidak sesederhana itu. Mesti ada sejumlah pemeriksaan, antara lain pemeriksaan darah. Selain itu, dalam cerpen yang sama, digambarkan yang menolong orang sakit adalah sarjana peternakan. Lebih tepatnya: “Saya ini sarjana peternakan yang baru saja mau lulus.” Rupanya sarjana peternakan itu belum lulus pula. Jagi, sebetulnya ia masih calon sarjana.
Itu juga ketidak-akuratan, akibat ketidaktelitian pengarang. Terus, pembaca dipaksa untuk menerima fakta yang aneh ini: calon sarjana peternakan mengobati orang sakit. Ini jelas fakta yang sulit diterima akal sehat. Jika ia seorang perawat, masih mungkin ia memberi pertolongan pertama untuk orang yang sakit. Anehnya lagi, obat yang digunakan untuk mengobati orang sakit sama dengan obat buat hewan. Dosisnya ditakar-takar saja.
Saya terpaksa menyisihkan cerpen ini sejak awal. Apa boleh buat. Apalagi, alur cerita itu datar-datar saja, tidak punya hentakan, atau sesuatu yang menarik perhatian
Mesti diingat, fakta dalam cerpen tidak bisa dijungkirbalikkan dari fakta yang terjadi dalam kenyataan sehari-hari. Kalau dalam kenyataan sehari-hari yang mengobati orang sakit adalah dokter, atau paling kurang mantri, tidak bisa kita semena-mena menggambarkan dalam cerpen seorang sarjana peternakan bisa menyembuhkan orang sakit. Jika dalam kenyataan sehari-hari lampu merah untuk berhenti, tidak bisa kita menggambarkan dalam cerpen bahwa lampu merah untuk berjalan.
Inilah pentingnya riset. Mestinya, sebelum menulis, jika ada hal-hal teknis yang diluar pengetahuan dan pengalaman penulis, sang penulis itu bisa melakukan riset terhadap masalah itu, apakah lewat buku-buku maupun bertanya kepada yang mengerti. Remy Silado, dalam sebuah kesempatan mengatakan untuk keperluan penulisan novelnya, ia sampai melakukan riset ke perpustakaan-perpustakaan di luar negeri.
Intinya, penulis tak boleh menghayal terlalu jauh. Kecuali memang ia sedang menggarap sebuah cerpen absurd, surealis, bukan cerpen realis. Ia boleh saja bermain dengan logika, tokoh dan fakta-fakta. Tapi itu pun harus tetap mampu menyakinkan pembaca bahwa cerita itu layak diterima sebagai cerita, bukan hayalan yang membosankan.
Mohammad Diponegoro mengatakan sebenarnya tugas seorang penulis fiksi adalah membuat cerita khayalan menjadi tampak sungguhan. Dari kata-kata Diponegoro itu bisa disimpulkan: menulis fiksi, terutama fiksi realis, semua harus berjalan sesuai dengan logika umum manusia dan tampak seperti benar-benar terjadi, bukan dibuat-buat atau dikarang-karang. Di sinilah perlunya keterampilan pengarang.
Jadi ada dua hal penting di sini: logika dan visual. Kedua hal inilah yang mampu menggambarkan sebuah cerita tampak seperti benar-benar terjadi. Sejumlah cerpen yang masuk, selain ada yang lemah secara logika, juga ada yang lemah secara visual. Penulis tidak telaten dalam bercerita, tidak detil dalam penggambaran, sehingga visualisasi cerita menjadi kabur.
Sebuah cerpen yang berhasil, mestinya ia mampu menghadirkan layar film dalam kepala pembaca ketika membacanya. Cerita tidak sekedar susunan kata-kata yang dederetkan secara serampangan dan tanpa perhitungan. Kata-kata dalam cerita harus mampu memberi gambaran yang riil kepada pembaca tentang sebuah peristiwa yang ditampilkan dalam cerita.
Gampangnya seperti menonton film. Kalau dalam film itu ada adegan dua orang berkelahi, kata-kata dalam cerita harus mampu menggambarkan adegan tersebut seperti menonton film itu, termasuk gambaran detil sosok yang berkelahi, gerak, ekspresi, lokasi, hingga properti. Jika gagal, maka gagallah cerpen itu dari sudut visualisasi.
Maka itu, mohon maaf, jika ada cerpen yang akhirnya masuk dalam kumpulan ini terpaksa sedikit saya “tukangi” untuk membuat visualisasi cerita menjadi lebih baik. Semula cerpen itu mau saya singkirkan, tapi mengingat ia penulis muda yang berbakat, akhirnya saya berdamai dengan diri saya sendiri untuk memasukkan dalam kumpulan ini.
Memang, dalam menyusun kumpulan ini saya melakukan banyak kompromi, dengan berbagai pertimbangan tentu. Pertama, banyak cerpen lemah secara ide, artinya idenya bukan sesuatu yang baru dan tidak ada pula hal-hal baru dalam cerita itu. Kedua, ada cerpen yang kurang fokus dalam bercerita, tapi demi representasi saya akhirnya terpaksa memilihnya.
Ketiga, ada cerpen yang identitas tokohnya tidak jelas. Keempat, sejumlah cerpen yang masuk penggambarannya datar-datar saja, tidak greget, apalagi menyentuh. Kelima, persoalan waktu. Sebetulnya, saya mesti meminta cerpen lain kepada para penulis atau memintanya memperbaiki jika karya yang dikirimkan kurang memenuhi kriteria. Tapi karena waktu sangat mepet, saya terpaksa menerima karya-karya itu apa adanya. Apa boleh buat. Harapannya klise saja: lain kali akan lebih bagus.
* * *
Soal cerita, saya tidak akan menjelaskan di sini. Saya mempersilakan pembaca untuk menikmatinya. Saya hanya ingin mencatat ini: ada keragaman gaya penceritaan dalam ranah penulisan cerpen di Aceh. Ada gaya Saiful Bahri yang surealis, Nani HS yang filosofis, M.N. Age yang romantis, Azhari yang bernada liris, dan lain-lain. Ini tentu aset besar untuk dunia penulisan sastra dari Aceh.
Sayangnya, hanya beberapa nama yang kerap mempublikasikannya karyanya ke luar Aceh, antara lain Azhari, M.N Age, dan Ayi Jufridar. Nama terakhir lebih banyak menulis cerpen-cerpen remaja untuk majalah remaja di Jakarta. Dua nama lain, yakni Saiful Bahri dan Arafat Nur, bukunya diterbitkan di Jawa. Sementara banyak para penulis lain kurang gencar memperkenalkan karyanya ke publik luar.
Kondisi ini membuat peta penulisan sastra di Aceh tidak begitu muncul di luar Aceh. Akhirnya orang pun mendapatkan kesimpulan yang keliru: di Aceh tidak banyak sastrawan. Padahal, sastrawan sangat banyak di Aceh. Jadi, ini ajakan saja, jika ingin mengoreksi kesimpulan keliru di atas, mari ramai-ramai kita hidangkan karya-karya kita ke publik luar Aceh.
Karya-karya dalam buku ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu bukti untuk mengoreksi kesimpulan keliru itu.

Depok, 18 Nopember 2006

Dipublikasi di BUKU | Meninggalkan komentar

MERAJUT PERDAMAIAN ACEH MELALUI PILKADA

Serambi Indonesia / Jumat, 30 Maret 2012 09:45 WIB

300312foto.7_menuju damai dengan pilkada

 

 

Elfutri (Kasatbinmas Polres Aceh Besar), Hafidh HS (anggota KIP Aceh Besar), Mukhlis Hasan (Ketua Panwas Aceh Besar), Irsadi Aristora (Ketua CAFE Institute) dan Maimun Hamid (Presenter Serambi FM) berbicara pada acara talk show dengan tema Merajut Perdamaian Aceh Melalui Pilkada yang Transparan, Jujur, Aman & Peduli Lingkungan di Serambi FM 90,2, Kamis (29/3). SERAMBI/NANI HS

 Editor : bakri

Dipublikasi di GALERI PHOTO | Meninggalkan komentar

FURQAN YANG SUKA MENGAJI

Serambi Indonesia / Minggu, 20 Januari 2013 09:22 WIB

200113_7_m_furqan

Muhammad Furqan

Namanya  Muhammad Furqan, murid kelas VI-A  SD IT Nurul Ishlah, Banda Aceh.  Ia suka sekali membaca, bermain futsal, dan catur. Itu dilakukan Furqan setelah tugas-tugas utamanya seperti mengaji, mengerjakan PR, dan tak ketinggalan shalat lima waktu, yang tepat waktu.

Diantara kegemarannya, mengaji adalah yang paling disukai Furqan. Tahukah kalian? Ternyata pada Ramadhan  2012, Furqan bisa khatam Alquran tujuh kali. Nah, dalam lomba khatam Alquran di sekolah Ramadhan lalu, Furqan juga  sempat khatam tiga kali.

Furqan lebih suka shalat berjamaah di masjid, pergi bersama orangtuanya, Pak Razali dan Bu Salmiah SE. Saat kedua orangtua Furqan sedang mendengarkan ceramah di masjid, rupanya Furqan sempat mengaji  hingga satu juz. Lalu sesampai di rumah, Furqan mengaji lagi.  Sepuluh hari sekali,  Furqan bisa khatam Alquran 1 kali.

Kenapa Furqan senang benar mengaji?  Ternyata Furqan takut sekali mengingat alam kubur.  Ibundanya selalu menasihatinya, bahwa bila takut dengan alam kubur, maka kita harus rajin ibadah, dan harus berhati  bersih.

Furqan adalah anak yang lebih suka mandiri. Belajar, shalat lima waktu,  dan mengaji tanpa harus disuruh-suruh. Kalau sudah tak mengerti,  barulah dia bertanya kepada orangtuanya atau orang yang lebih bisa. Furqan bercita-cita ingin jadi ilmuan.

Furqan kelahiran Banda Aceh, 9 Januari 2001 ini, juga punya prestasi lain. Misalnya; Juara II Lomba Tahfidz  Antar Pengajian Desa Lambhuk tahun 2009, Juara I Lomba Mewarnai  Antar Pengajian Desa Lambhuk (2009), Juara II Lomba Mewarnai  Kecamatan Ulee Kareng (2007). Bersama timnya, Furqan Juara I Lomba Futsal  SD IT Nurul Ishlah.

Furqan juga pernah berpartisipasi dalam lomba berhitung cepat oleh Fakultas Teknik, Unsyiah, Olimpiade Sains Kuark sampai babak semifinal, dan lomba catur oleh SD IT Nurul Ishlah. Sejak kelas I-VI, Furqan selalu masuk 10 besar. Pada kelas VI semester ganjil, Furqan ranking I.  Nah, sebagai anak tertua dari dua bersaudara, tentu Furqan harus memberi contoh kepada adiknya, Shaumi Qathrunnada, ya? Mau koresponden dengan Furqan? Alamatnya di Jln. Tgk. Main No. 3, Lambhuk, Ulee Kareng, Banda Aceh.(nani hs)

 Editor : bakri

 

Dipublikasi di BERITA NANI | Meninggalkan komentar

WILDANUM MODEL STUDIO S ONE

Serambi Kids

Serambinews.com / Minggu, 24 Februari 2013 09:19 WIB

240213_9_wildanum

 

Kalau Wildanum Muhan Rajsal, mau ikut suatu lomba model atau lomba peragaan busana, sudah ada yang urus. Bukan bundanya. Tapi diatur oleh seorang menejernya.

Wah baru usia 11 tahun, teman yang sekolah di SD Kartika XIV Banda Aceh ini, sudah punya menejer? Iya dong. Itu karena Wilda sudah serius dengan profesinya sebagai Model Cilik Studio S One Atjeh Modelling, yang dilatih oleh Awan dan Riri.

Nah,  Wilda sudah memilih dunia modeling dalam mengukir prestasinya. Berfoto, menari, dan catwalk memang sudah hobi Wilda sejak kecil. Tak heran teman kelahiran 20 Januari 2002  ini, sudah punya sejumlah piala penghargaan. Misalnya  dari ajang Icon Model Launching Toyota New Avanza 2012, Model Cilik Pagelaran Fashion Show Tenun Tradisional EXPO City 2011,  Juara I Fashion Show Cassual Kid’s Oasis Hotel 2013, Juara III Fashion Show Cassual Colourfull Kapal Apung 2013.

Bagaimana Wilda mengatur kesibukannya? Anak pertama dari dua bersaudara ini, setiap Senin sampai Rabu  pada pukul  14.00-16.00 Wib,  mengikuti les pelajaran sekolah, dan pada

pukul 16.00-18.00 Wib mengikuti latihan drumband di sekolah. Sedangkan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat kegiatan Wilda adalah  mengaji.  Jadi setiap Sabtu,  barulah Wilda latihan untuk catwalk atau model.  Nah, kalian tentu bisa meniru ketekunan belajar anak Pak Muharli Iskandar dan Bu Ani Tursina ini bukan? Wilda ingin jadi model bertaraf nasional dan internasional.(nani hs)

Editor : bakri

Dipublikasi di BERITA NANI | Meninggalkan komentar

BALAI SYURA KUNJUNGI SERAMBI INDONESIA

Aceh.tribunnews.com / Kamis, 14 Maret 2013 11:26 WIB

BANDA ACEH – Sejumlah aktivis perempuan yang tergabung dalam Balai Syura Ureung Inong Aceh melakukan kunjungan ke Kantor Pusat Harian Serambi Indonesia, kawasan Meunasah Manyang-PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (13/3). Kunjungan itu bertujuan mendiskusikan peran media dalam pemberitaan isu perempuan di Aceh.

Ketujuh aktivis perempuan itu disambut Wakil Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia, M Nasir Nurdin dan Eksekutif Produser Serambi FM 90.2 Mhz, Nani HS. Kunjungan itu merupakan satu dari serangkaian kegiatan memperingati Hari Perempuan Sedunia.

Seorang aktivis, Asiah mengatakan kunjungan itu selain silaturrahmi juga untuk membangun hubungan dengan media sebagai sarana yang bisa membantu kaum perempuan Aceh melalui pemberitaan. “Kami mengharapkan Serambi Indonesia dapat ikut memperhatikan kaum perempuan melalui pemberitaan di koran,” katanya saat diskusi.

Menanggapi harapan aktivis Balai Syura, Nasir Nurdin mengatakan pihaknya terbuka menerima segala masukan dan kritikan selama hal itu bermanfaat bagi masyarakat.

“Serambi memberi ruang bagi Balai Syura maupun lembaga lain yang ingin menyuarakan hal-hal yang terjadi di Aceh. Hal itu dapat langsung ditujukan ke redaksi Harian Serambi Indonesia. Kami juga akan terus memperbaiki diri agar ke depan bisa lebih baik lagi,” demikian Nasir Nurdin.(s)

Editor : bakri

 

Dipublikasi di KLIPING MEDIA | Meninggalkan komentar

BPPPA : WASPADAI TRAFFICKING

Serambinews.com / Kamis, 8 Desember 2011 09:54 WIB

08122011foto_9__bppa

* Raihan Putry Kunjungi Serambi

BANDA ACEH – Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Ka BPP dan PP) Aceh, Raihan Putry Ali Muhammad, meminta orangtua mengawasi anaknya dengan baik, agar terhindari dari aksi trafficking (perdagangan manusia) yang sudah mulai terjadi di Aceh.

Hal itu dikatakan Raihan saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Jalan Raya Lambaro KM 4,5 Desa Meunasah Manyang PA, Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (7/12). Raihan dan rombongan disambut Sekretaris Redaksi Harian Serambi Indonesia, Bukhari M Ali dan Eksekutif Produser Radio Serambi FM, Nani HS.

Pada kesempatan itu, Raihan mengemukakan awalnya dia tidak menyangka trafficking sudah ada di Aceh dan terkoordinir dengan rapi. Untuk itu Badan PP dan PA sudah memasukan program khusus trafficking untuk program kerja tahun 2012.

“Ada kasus trafficking yang paling miris dilakukan oleh mahasiswa. Saya bertemu langsung dengan tersangka di penjara. Mahasiswa itu mengaku jaringan ini sudah tersusun rapi dan ada di Aceh. Jadi, saatnya orangtua waspada dan mengontrol anaknya dengan baik,” kata Raihan.

Menurut Raihan, modus perdagangan manusia yang terjadi di Banda Aceh saat ini antara lain menawarkan keperawananya kepada jaringan trafficking. Tujuannya mendapat uang yang banyak. Ini terjadi beberapa waktu lalu. Kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian, setelah orangtuanya melaporkan kejadian itu ke polisi. Pelakunya juga sudah ditangkap.

Untuk memutuskan mata rantai perdagangan manusia di Aceh dan Banda Aceh khususnya, BPP dan PA Aceh akan bekerja sama dengan pihak kepolisian dan kejaksaan untuk program 2012. BPP dan PA juga memperkuat instansinya di kabupaten/kota.(c47)

Editor : bakri

 

Dipublikasi di KLIPING MEDIA | Meninggalkan komentar

BNI GRIYA BUNGA CANTIK

Serambi Indonesia / Rabu, 9 Mei 2012 09:57 WIB

090512foto.9_bni griya

 

  •  

 

 

Analis Pemasaran Bisnis BNI, Nopi Astiningtyas (kanan), bersama Syahrozy, Lending Officer (tengah) dan Abdul Muis, Penyelia Pemasaran Bisnis menjadi narasumber talkshow “BNI Griya Bunga Cantik” yang dipandu Dosi Alfian di Radio Serambi FM 90.2 MHz, Meunasah Manyang, Aceh Besar, Selasa (8/5). BNI Griya adalah produk BNI untuk pembiayaan pembangunan ataupun pembelian rumah. SERAMBI FM/NANI HS

 Editor : bakri

 

Dipublikasi di GALERI PHOTO | Meninggalkan komentar